Sabtu, 24 Juli 2010

Novel Barukuuuu

Najwa Alluna Novaschek (Luna), Kharinza Tirana Lockhart (Ririn), Aicylla Cybelrose (Ai), Kesya Marendradani (Kesya), Ardillia Vronzka (Dilla), dan Yvonne Pradiptia (Tia) adalah enam orang cewek yang bersekolah di salah satu sekolah internasional di Yogyakarta. Mereka bersahabat mulai dari awal masuk sekolah. Dengan latar belakang yang berbeda, Luna yang tomboy, Ririn yang feminin, Kesya dan Dilla yang baik hati, dan Tia yang perhatian segera menemukan kecocokan masing-masing. Selera yang sama (mulai dari makanan hingga cowok!) membuat mereka semakin tidak terpisahkan.
Semua bermula saat seorang cowok, Delvonando Wiratama Primahadiputra (Delvon), mulai hadir dalam kehidupan mereka dan menarik perhatian Luna dan Ririn. Perlahan-lahan geng itu mulai terpecah. Luna dibantu oleh Dilla dan Tia berusaha menarik perhatian Delvon, sedangkan Ai dan Kesya membantu Ririn untuk selalu dekat dengan Delvon.
Sebuah ujian datang menghampiri Luna saat Devon telah memilihnya. Ternyata Luna menderita penyakit yang tidak dapat disembuhkan! Hal itulah yang membuatnya mengambil keputusan untuk mundur dari persaingan itu. Dilla dan Tia yang membantunya kontan melawan, namun mereka tidak dapat berbuat apapun setelah Luna beralasan bahwa dia tidak mencintai Delvon lagi. Tia dan Dilla menganggap Luna telah mempermainkan mereka, begitu pula dengan Delvon. Perlahan-lahan mereka menjauhi Luna.
Ririn menganggap Luna telah kalah saat Delvon datang dan memintanya untuk menjadi pacarnya. Ririn langsung menyanggupinya. Hubungan antara Ririn, Kesya, Ai, Dilla, Luna, dan Tia semakin membaik, namun tidak dengan hubungan Luna dan Delvon. Suatu waktu Luna pingsan saat praktikum dan terpaksa dilarikan ke rumah sakit. Delvon yang masih menyayangi Luna selalu menemani Luna setiap saat sampai dia sembuh dan kembali bersekolah. Ririn yang mengetahui hal tersebut menganggap Luna telah menghianati dirinya. Ririn kembali menjauhi Luna.
Suatu hari Luna terpaksa dilarikan kembali ke rumah sakit. Delvon kembali berada di sisinya sampai pada suatu hari dia mengetahui bahwa penyakit Luna tidak dapat disembuhkan dan dapat merenggut nyawanya sewaktu-waktu. Delvon segera memberitahu Ririn, Dilla, Ai, Kesya, dan Tia. Namun usahanya sia-sia. Tidak satupun dari mereka mau menjenguk Luna yang kondisinya semakin melemah dari waktu ke waktu.
Lalu bagaimanakah kondisi Luna selanjutnya? Apakah teman-temannya mau memaafkannya? Mampukah dia bertahan?

Never Ending Love Story

Siapa sih, yang ingin menjadi anak dari keluarga broken home? Siapa sih, yang ingin hidup tanpa kasih sayang yang utuh dari kedua orang tua? Siapa sih, yang ingin dipandang perlu dikasihani hanya karena keluarga kita tidak utuh lagi? Kupikir tidak ada satupun yang menginginkannya, begitu pula denganku.
Papa dan mamaku bercerai setengah tahun yang lalu. Hak asuh anak jatuh pada papa. Aku dan kedua adikku tidak banyak protes saat beliau mengajak kami pindah ke rumah baru, meskipun kami juga harus mengurus kepindahan kami dari sekolah yang lama.
Tidak ada yang istimewa di sekolah baruku, kecuali seseorang yang membuat hatiku berbunga untuk pertama kalinya. Namanya Gilang. Usianya satu tahun lebih tua dariku. Saat ini dia sedang sibuk mempersiapkan ujian akhir sekolah yang kabarnya semakin sulit karena pemerintah kembali menaikkan standar kelulusan. Aku sering berpapasan dengannya saat kami berada di kantin. Dia selalu menyapaku lebih dulu.
Gilang bukanlah orang penting di sekolah. Dia bukan ketua OSIS yang setiap hari mengumpulkan anggotanya di ruang rapat. Dia bukan ketua teater atau klub seni di sekolahku. Dia juga tidak tergabung di klub olimpiade sains bergengsi di sekolahku. Dia hanyalah seorang kapten tim basket yang setiap hari selalu meluangkan waktu untuk berlatih di halaman belakang ditemani olehku.
Ah, menemaninya berlatih basket sudah membuatku senang. Aku juga penyuka basket. Mungkin karena itulah aku kami menemukan kecocokan dalam diri masing-masing. Gilang sudah pernah merasakan bertanding dengan pemain basket nasional saat mengikuti ajang basket yang diselenggarakan oleh salah satu produsen mie instan. Dia mengetahui banyak trik permainan. Itulah sebabnya mengapa klub basket sekolahku disegani oleh klub basket sekolah lain.
Gilang juga mahir berbahasa Inggris. Dia pernah mengikuti program pertukaran pelajar selama empat bulan ke Connecticut. Selama itulah ada seseorang yang hadir di hatiku. Namanya Angga. Dia adalah kakak Gilang. Kak Angga adalah seorang dokter yang pernah menangani cedera lututku saat aku bertanding basket. Hubungan kami semakin dekat saat aku ditugaskan untuk mengikuti olimpiade kedokteran yang diselenggarakan oleh salah satu perguruan tinggi bergengsi di kotaku, dan kak Angga menjadi pembimbingku.
Kami banyak meluangkan waktu bersama. Saat itu entah mengapa aku sedikit melupakan Gilang. Aku tidak begitu bersemangat saat dia meluangkan waktu untuk meneleponku. Aku juga tidak begitu tertarik saat dia mengajakku video chatting. Aku lebih bersemangat saat kak Angga mengajakku melihat rekaman video “Dr. Oz Show” yang dia dapatkan dari sebuah situs.
Siang itu, seperti biasa aku mengikuti bimbingan dengan kak Angga. Sebuah SMS yang masuk ke HP kak Angga membuatnya tersenyum senang. Hari ini Gilang pulang dari Connecticut. Itu artinya, besok pagi aku dan kak Angga akan menjemputnya di bandara. Ayayay… dua orang yang aku sukai akan bertemu besok.
Keesokan harinya kak Angga telah menjemputku di rumah. Toyota Fortunernya membunyikan klakson, membuatku cepat-cepat menuntaskan sarapan pagiku dan berlari menemuinya. Kami bergurau di sepanjang jalan menuju bandara. Di ruang tunggu, kak Angga mendahuluiku saat melihat Gilang sedang duduk dengan dua tumpuk koper di sampingnya. Riuh sejenak. Kak Angga dan Gilang saling berangkulan dan menemuiku yang berdiri tidak jauh dari mereka.
Gilang memelukku dengan erat saat aku tersenyum ke arahnya. Kak Angga membawa kami mengitari kota Yogyakarta dan berhenti sejenak di depan kampusnya saat dia melihat seseorang. Kak Angga mengenalkannya padaku. Namanya Lian. Dia adalah rekan seprofesi sekaligus teman istimewa kak Angga. Saat itu ada sesuatu yang kurasakan hilang dari tubuhku.
Kami melanjutkan perjalanan. Penghuni mobil bertambah satu, kak Lian. Dia duduk di samping Gilang dan mengobrol dengan riuh. Aku mengamati mereka satu-persatu. Kak Angga. Dia istimewa untukku, namun entah apakah aku pernah menjadi istimewa untuknya. Kak Lian. Istimewa untuk orang istimewaku. Gilang. Setidaknya aku pernah menjadi istimewa untuknya.
Kami berhenti di sebuah rumah di jalan Ganesha. Kak Angga, kak Lian, aku, dan Gilang masuk. Betapa terkejutnya saat aku melihat seorang wanita turun dari tangga menyambut kami. Mama!
“Ma, ini teman Gilang. Namanya Mita,” kata Gilang sambil merangkul mama. Hah? Mama? Gilang memanggil mama dengan sebutan “mama”? Aku menatap mama dengan pandangan tidak percaya.
“Kemarilah, Nak,” kata mama sambil memelukku. Air mataku menetes. Ternyata mama telah menikah lagi dengan seorang pengusaha dua bulan yang lalu. Pengusaha itu adalah ayah dari kak Angga dan Gilang. Itu berarti, mereka berdua adalah saudara tiriku.
Kurasakan kelegaan yang sangat saat aku memeluk kak Angga dan Gilang bergantian. Ternyata rasa cintaku selama ini tidak bertepuk sebelah tangan. Aku mampu mendapatkan cinta dari keduanya. Ya, cinta yang tulus dan abadi dari kedua orang kakak. Dan cerita cinta ini akan terus berlanjut…

Kutemukan Mutiaraku Kembali

Aku menatap seorang gadis cilik yang pagi ini dibawa ke rumah sakit dengan pandangan miris. Entah apa lagi yang dia alami sampai-sampai tubuhnya penuh luka lebam. Baru beberapa minggu yang lalu dia dirawat di rumah sakit dengan gejala yang sama: tubuhnya penuh luka lebam. Namun, setiap kali aku menanyakan sebabnya, anak itu hanya menjawab, “Saya jatuh dari metromini.”
Sungguh terenyuh aku mendengarnya. Anak ini baru berumur sebelas tahun, namun bnyak sekali kehidupan pahit yang telah dia rasakan. Dia sudah tidak memiliki orang tua, namun masih memiliki seorang kakak yang berusia empat tahun lebih tua. Sayang, sang kakak pergi tanpa diketahui rimbanya.
Aku mulai mencuci kedua tanganku dengan sabun dan mengenakan sarung tangan karet. Untuk kasus seperti ini, biasanya para suster yang menangani. Namun kali ini biar aku saja yang melakukannya.
Sampai di ruang UGD, aku segera menuju tempat perawatan. Setelah melihat kondisi pasien, aku langsung meminta para suster untuk memindahkannya ke ruang tindakan operasi kecil. Ada beberapa luka di kakinya yang kuperkirakan harus dijahit. Tanpa membutuhkan banyak waktu, anak itu telah siap untuk ditangani.
“Siapa namamu?” tanyaku sebelum aku mulai melakukan tindakan. Anak itu meringis kecil, menggeser kakinya sedikit, lalu menjawab, “Lia.”
Aku mengangguk-angguk dan mulai memerksa luka di kakinya. Tampaknya memang cukup lebar, namun tidak terlalu dalam. Aku memutuskan untuk tidak menjahitnya.
“Lia jatuh dari metromini lagi?” tanyaku. Dia mengangguk, begitu juga denganku. Namun aku mendadak ragu saat melihat bekas luka di tangan kirinya, tepatnya bagian lengan atas. Tampak sepertiga bagian lengannya membiru. Aku sedikit khawatir ketika Lia mengaduh saat aku menyentuh bagian yang membiru itu.
“Lia beneran jatuh dari metromini?” tanyaku. Lia mengangguk berkali-kali. Tapi warna biru di lengan atasnya tampak seperti bekas pukulan benda tumpul, batinku. Entah karena terlalu sering menonton acara penganiayaan di televisi atau karena naluri seorag dokter, aku segera memeriksa kepalanya.
“Dok, kepala saya nggak sakit,” kata Lia saat aku memeriksa kepalanya. Aku tersenyum. “Saya hanya ingin tahu apakah ada luka juga di kepalamu,” jawabku. Lia mengangguk-angguk. Setelah tiga puluh menit berlalu, aku selesai memeriksanya. Semua luka yang ada di tubuhnya telah selesai kuobati. Anak ini tidak perlu dirawat, batinku saat memberikan selembar resep pada orang yang waktu itu mengantar Lia ke rumah sakit dan memintanya kembali kontrol esok hari.

+++

“Pasien Lia sudah ada di ruang tunggu, Dokter Kevin,” kata seorang suster saat aku masuk ke ruang praktik. Aku meletakkan tas kerjaku dan duduk di kursi. Seorang pekerja membawakan segelas teh hangat dan langsung kuteguk.
“Sudah siap untuk praktik?” tanya suster. Aku tersenyum dan mengangguk. Suster itu mulai memanggil pasien satu-persatu. Pasien pertamaku pagi ini adalah Lia. Lia adalah pasien yang penurut. Dia selalu datang setiap kali kuminta untuk kontrol ulang.
“Selamat pagi,” sapaku saat Lia masuk. Dia tampak menggandeng seseorang yang belakangan kuketahui adalah sopir metromini bernama Bakir yang sering Lia bantu untuk mencari uang.
“Selamat pagi juga, Dokter,” jawab Lia. Dia meminta sopir metromini yang mengantarnya untuk duduk, kemudian tidur di tempat yang telah disediakan. Seorang suster memberikan status pasien kepadaku. Aku membacanya dengan teliti, kemudian bertanya dengan sedikit nada curiga kepada Pak Bakir.
“Lia bilang, dia jatuh dari metromini kemarin. Benar, Pak?” tanyaku. Sopir taksi itu tampak akan mengatakan sesuatu namun Lia cepat-cepat menyahut, “Iya, Dok. Beneran deh.”
Keningku berkerut, namun aku segera memeriksa Lia. Tidak ada masalah dengan kondisi anak ini. Hanya saja warna biru di lengan kiri atasnya masih tampak, bahkan semakin jelas terlihat. Lia mengaduh kesakitan saat aku menyentuhnya.
“Kita harus melakukan foto rontgent untuk mengetahui kondisi tangan kiri Lia,” kataku pada Pak Bakir. Pak Bakir hanya terdiam. Tiba-tiba Lia yang baru saja selesai kuperiksa menyahut, ”Pak Bakir nggak punya uang.”
Aku tertegun. Meskipun baru tiga tahun menjalani profesi sebagai seorang dokter, aku telah paham bagaimana rasa kemanusiaan terkadang tidak berlaku di rumah sakit. Pengobatan pasien seringkali tertunda hanya karena masalah ekonomi. Aku tahu pemerintah telah memberikan program jaminan kesehatan, namun terkadang ada pula oknum yang mempersulit para golongan ekonomi lemah untuk mendapatkannya. Sebagai seorang dokter, terkadang akupun tidak dapat melakukan tindakan jika si pasien bermasalah dengan uang.
Seperti saat ini. Aku mengizinkan Lia keluar dari ruang praktikku tanpa tindakan apapun. Hanya prosedur pemeriksaan standart yang dia dapatkan.

+++

“Sudah pulang. Vin?” tanya mama saat aku kembali dari rumah sakit. Aku mengangguk dan duduk di sebelah mama. Kubiarkan Mbok Rah, pembantu yang telah bekerja di rumahku sejak aku berumur lima tahun, meletakkan sepatu dan tas di kamarku.
“Kamu kelihatan capek sekali hari ini?” tanya mama lagi. Aku mengangguk dan mengendurkan dasiku. Mama tersenyum dan mengelus rambutku. Hal yang sering dilakukan mama meskipun aku telah dewasa.
“Mama sudah masak makanan kesukaan kamu, Vin. Sebaiknya kamu segera makan, kemudian istirahat. Mama nggak mau dokter pribadi mama sakit,” kata mama. Aku tersenyum dan memeluk mama, kemudian segera menuju kamarku.
Makan malam yang sunyi. Papa seperti biasa belum pulang dari kantornya, sedangkan mama sibuk dengan aromatherapy yang beberapa hari yang lalu dibelinya. Seluruh ruangan berbau lavender sekarang.
Aku mengambil sesendok nasi dari ricecooker yang letaknya tidak jauh dari meja makan. Tampaknya malam ini perutku menolak untuk diisi makanan terlalu banyak, meskipun mama memasak sayur kangkung kesukaanku. Aku makan sambil sesekali memikirkan Lia. Sepertinya ada sesuatu yang membuatku ingin menyelidikinya.
“Kok kamu makan sedikit sekali Vin? Masakan mama kurang enak ya?” tanya mama. Aku tersenyum dan menggeleng. “Tidak, Ma. Kevin hanya sedang ada sedikit masalah di rumah sakit,” jawabku.
Mama mengelus kepalaku dan duduk di sampingku. Beliau mengambil sebutir apel dan mulai mengupasnya perlahan-lahan. “Masalah dengan pasien kamu?” tanya mama. Aku mengangguk. Tiba-tiba sebuah ide muncul di kepalaku. Cepat-cepat kuraih gagang telepon dan menelepon asistenku di rumah sakit.
“Halo, selamat malam.”
“Selamat malam. Suster, tolong alihkan semua pasien saya kepada dokter Brian malam ini karena besok saya tidak dapat datang.”

+++

“Lucu. Kamu akan melakukan penyelidikan? Memangnya kamu pikir, kamu seorang detektif? Lebih baik kamu urus pasien-pasienmu saja,” kata Brian, teman seprofesiku, saat aku meneleponnya. Aku tersenyum.
“Aku titip pasien-pasienku sebentar,” kataku sambil menutup telepon. Segera kupakai topi hitamku dan keluar rumah tanpa membawa mobil. Rencananya hari ini aku akan menumpang metromini yang dikondekturi oleh Lia.
Sudah satu jam aku berdiri di pinggir jalan Ganesha, pusat metromini yang ada di kotaku. namun Lia tidak kunjung muncul. Berulang kali aku melirik arloji, berharap dia segera muncul.
Diiin... Diiin...
“Jalur lima Pak! Jalur lima!”
Terdengar suara yang sangat kukenal. Suara Lia. Sudut bibirku terangkat. Dengan sekali lambaian metromini itu menepi dan berhenti. Sekilas kulirik sopir yang duduk di depan. Pak Bakir.
Sempurna! Batinku saat metromini mulai melaju. Aku memilih duduk di belakang agar aku dapat mengawasi Lia. Dia bekerja sangat cekatan, seperti orang dewasa saja. Tiba-tiba bahuku dicolek seseorang. “Ongkos, Mas,” katanya.
Aku mengeluarkan selembar uang duapuluh ribuan. “Ambil saja kembaliannya,” kataku saat si penarik ongkos memberikan uang kembalian. Dia tersenyum. “Terima kasih Mas. Terimakasih.”
Aku tersenyum dan mengangguk. Tak lama kemudian aku kembali serius mengamati Lia. Tidak ada masalah dengan anak itu. Hanya saja dia jarang sekali menggunakan tangan kirinya. Aku tahu tangan kirinya mengalami cedera. Tak lama kemudian metromini melaju di jalan Mangkubumi dan melewati rumah sakit tempatku bekerja. Lia tampak berbicara sebentar dengan Pak Bakir kemudian turun. Aku buru-buru mengikutinya.
Lia menyusuri gang sempit disamping rumah sakit. Aku berusaha mengkutinya tanpa menimbulkan suara. Saat itu suasana mendung dan hujan gerimis turun. Beberapa kali aku hampir terpeleset karena jalan sangat licin.
“Sudah kau dapatkan uang itu, anak ingusan?!” bentak seseorang saat Lia memasuki sebuah gubug. Langkahku terhenti. Segera kucari tempat persembunyian. Entah apa yang Lia lakukan di dalam sana. Yang kudengar hanyalah bentakan-bentakan yang sangat kasar yang tidak pantas diucapkan.
Tiba-tiba terdengar suara jeritan dari dalam. Tanpa pikir panjang aku keluar dari persembunyianku dan menerobos masuk. Kulihat Lia sedang terkapar dengan memegangi lengan kirinya. Beberapa orang bertubuh sangar berdiri di depannya dengan membawa sebilah kayu. Jadi... ini alasan mengapa banyak luka di tubuhnya? Luka-luka itu disebabkan oleh pukulan kayu, bukan karena jatuh dari metromini! Batinku.
Aku segera memeluk Lia dan membawanya keluar. Tidak kupedulikan teriakan geram dan ancaman dari orang-orang bertubuh besar itu. Satu hal yang kupikirkan: aku harus menyelamatkan anak ini.

+++

“Kadaver dengan kasus drowning dengan ciri-ciri: tinggi tubuh 160 cm, kulit sawo matang, rambut ikal sebahu berwarna hitam, identitasnya telah diketahui...”
Aku mendengarkan penjelasan seorang co-ass yang sedang mengambil siklus forensik dengan seksama. Sesekali aku tersenyum saat si co-ass sibuk mendeskripsikan kadaver dengan berbagai gaya: menggaruk-garuk kepalanya ketika kebingungan, menjelaskan dengan gerak tangan yang berlebihan, bahkan terkadang kehabisan suara karena gugup.
“Cukup. Saya mengerti,” kataku sambil berjalan mendekati si co-ass. Co-ass itu mengangguk dan memberikan sepasang sarung tangan karet padaku. “Tolong ambilkan map yang ada atas meja,” kataku sambil meneliti kembali kadaver yang tadi diteliti oleh Lia, adikku.
Adik?
Ya, Lia adalah adikku. Adik angkat lebih tepatnya. Setelah kejadian itu, aku memutuskan untuk menjadikannya sebagai adik angkat. Mama dan papa setuju. Sekarang, Lia telah menyelesaikan studinya di fakultas kedokteran dan tengah mengambil profesi di rumah sakit tempatku bekerja.
Aku sendiri telah resmi menjadi dokter spesialis forensik satu tahun yang lalu. Pendidikan forensik kudapatkan di Yale University, Amerika, dilanjutkan dengan mengambil profesi di salah satu universitas di Indonesia, dan akhirnya bekerja kembali di rumah sakit ini.
“Silakan, Dok,” kata Lia sambil menyerahkan sebuah map berwarna biru muda. Aku mengangguk dan membaca data-data otopsi dengan teliti. Sekilas kulirik Lia yang berdiri tidak jauh dariku. Air matanya menggenang.
“Kenapa Lia?” tanyaku tanpa mengalihkan perhatian dari map yang sedang kubaca. Tiba-tiba terdengar suara isakan. “Kadaver itu bernama Eka Saputra kan, Kak?” tanya Lia. Aku mengangguk.
“Akhirnya aku bisa bertemu dengan kakak kandungku, meskipun dengan kondisi seperti ini...”
+++


Untuk keluargaku, terimakasih telah mendukung cita-citaku.

Dedicated to My Brother

Brother...
Do you remember when we were child
and we played together?

Brother...
Do you remember when you broke up my doll
and I cried loud?

Brother...
Do you remember when we had a picnic
that we would not forget?

+++

“Assalamualaikum, Kak Rendra.”
Aku mengucap salam saat membuka pintu ruang rawat. Aku berjalan mendekati kak Rendra yang sedang tertidur lelap dan mencium keningnya. Aku tahu dia tidak sedang terlelap, namun koma.
Koma?
Ya, kak Rendra mengalami over dosis karena mengkonsumsi narkoba. Entah mengapa kak Rendra memutuskan untuk menggunakan barang haram itu. Aku mengelus kepala kak Rendra dengan lembut dan berbicara di dekat telinganya.
“Aku sayang Kakak.”
Tangan kak Rendra bergerak. Aku tersenyum. Selalu begitu. Kak Rendra selalu memberikan respon setiap aku berbicara dengannya. Aku mengecup kening kak Rendra sekali lagi.
Brother, would you please wake up?
Air mataku menetes satu persatu. Kak Rendra pasti kesakitan, batinku sambil memegang tangannya. Dingin.
“Bangun, Kak. Aku sayang Kakak,” kataku. Kali ini kak Rendra memberi respon dengan menggerakkan kakinya.
“Selamat siang.”
Terdengar salam dari luar disusul dengan bunyi deritan pintu. Seorang suster masuk dengan membawa sebuah baki yang terbuat dari alumunium. “Selamat siang, Mbak. Tumben sudah datang?” sapa suster itu. Aku tersenyum tipis.
“Pulang sekolah jam dua belas, Sus,” jawabku datar. Suster itu mengangguk dan tersenyum. Dia mengeluarkan jarum suntik dan menyuntikkan cairan berwarna merah. Dapat kulihat tubuh kak Rendra sedikit menegang saat cairan itu mulai masuk.
“Kondisi Mas Rendra sudah sedikit membaik dibandingkan hari kemarin. Kami, tim medis, masih berusaha menaikkan kondisi tubuhnya sampai ke titik stabil,” kata suster.
“Lalu kira-kira kapan kakak saya akan sadar?” tanyaku. Suster itu menggeleng dan menatapku. “Kami belum tahu, Mbak. Kondisi mas Rendra masih bisa berubah sewaktu-waktu dan kami belum bisa memastikannya,” jawabnya.
Sudah kuduga jawabannya akan seperti itu. Semua suster yang kutanyai selalu menjawab, “Kami belum tahu, Mbak” atau “Mas Rendra belum menunjukkan tanda-tanda akan sadar” seakan-akan kak Rendra tidak dapat bangun kembali!
Kugenggam tangan kak Rendra dan kutempelkan ke pipiku. Brother... would you please wake up?

+++

“Assalamualaikum.”
Aku langsung terjaga saat mendengar salam itu. Ternyata aku tertidur, batinku. Mbak Mirna, kakak sulungku, masuk dengan membawa beberapa buah tas plastik hitam. Wajahnya tampak letih.
“Waalaikumsalam. Baru pulang, Mbak?”
“Iya, sayang. Mbak bawa nasi bungkus nih. Kamu makan dulu ya,” kata mbak Mirna. Aku mengangguk dan menyambar sebungkus nasi di atas meja. Perutku yang belum diisi sejak pagi menuntutku untuk makan dengan lahap.
“Setelah ini kamu langsung pulang aja ya,” kata mbak Mirna. Kontan aku menggeleng. “Nggak mau, Mbak. Kasian kak Rendra,” jawabku. Mbak Mirna menatapku dan balas menggeleng.
“Ntar kamu kecapekan. Malam ini biar Mbak yang jaga,” kata mbak Mirna. Perkataan kakak sulungku jelas tidak membutuhkan pembantahan. Lagi pula aku harus belajar untuk menghadapi ujian semester besok.
“Tapi kalu ada apa-apa, Mbak telepon aku ya,” kataku sambil melipat bungkus nasi dan membuangnya di tempat sampah. Mbak Mirna mengangguk. Aku tersenyum dan menuju washtafel untuk mencuci sendok bekas yang telah kupakai.
“Aku pulang dulu, Mbak. Assalamualaikum.”
Aku menutup pintu pelan-pelan. Aku pulang dulu, Kak. Kakak cepat sadar, ya. Aku sayang kakak, batinku saat mengintip kak Rendra melalui jendela yang ada di pintu.
“Selamat siang, Mbak. Dokter ingin bertemu dengan Anda sekarang juga,” kata suster yang tanpa kusadari telah berdiri di hadapanku. Aku mengangguk dan segera mengikuti suster itu ke ruang praktek dokter.
“Silakan masuk, Mbak. Dokter Irham sudah menunggu,” kata suster sambil membukakan pintu. Aku mengangguk dan masuk. Senyum lebar dan sapaan ramah dokter Irham langsung menyambutku.
“Selamat siang, Mbak. Silakan duduk.”
“Terimakasih, Dok.”
Aku menarik kursi yang ada di depanku dan duduk diatasnya. Dokter Irham mengangguk dan menyodorkan sebuah map biru. Aku menatap map itu. “Silakan dibuka,” kata dokter Irham.
“Ini apa, Dok?”
Dokter Irham tersenyum dan menunjuk tulisan yang ada di bagian atap map itu. Laporan pemeriksaan kak Rendra. Mulutku membulat dan membuka halaman depan map itu.
“Itu grafik kesehatan kakak Anda,” kata dokter Irham. Mulutku kembali membulat. Dokter itu mengubah posisi duduknya. Kedua tangannya bertumpu di atas meja. Tubuhnya condong kearahku.
“Saya ingin memberikan suatu kabar tentang kakak Anda,” kata dokter Irham. Aku menutup map itu dan segera memasang telinga baik-baik.
“Pemeriksaan itu menunjukkan telah terjadi disfungsi medulla oblongata yang disebabkan oleh zat aditif. Hal tersebut sangat mungkin menyebar ke batang otak karena pengaruh zat tersebut.”
Tubuhku serasa membeku.
“Tapi masih ada kemungkinan bagi kakak Anda untuk sadar dan sembuh lagi,” lanjut dokter Irham.
Aku menelan ludah. Aku tahu, dalam dunia kedokteran, yang disebut dengan mati adalah kematian batang otak. Aku juga tahu, letak medulla oblongata sangat dekat dengan bagian otak itu. Itu berarti...
Air mataku langsung berloncatan layaknya memori yang pernah kulewati bersama dengan kak Rendra. Aku mengingat semuanya. Aku sama sekali tidak sanggup seandainya aku harus kehilangan kak Rendra!

+++

Brother... brother...
I still remember when mommy and daddy deforced...
When everything went wrong...
And when you went away...

“Papa benar-benar tidak tahu malu! Ingat keluarga, Pa! Kita sudah memiliki tiga orang putera!”
Mama benar-benar tidak dapat menahan emosi ketika mendapati papa membawa seorang wanita ke rumah. Papa tertangkap basah, namun masih saja mengelak.
“Mama ini apa-apaan sih? Siapa yang tidak tahu malu?”
Aku dan mbak Mirna hanya bisa menangis. Sungguh, kami tidak menyangka hal itu akan terjadi. Papa yang berwibawa, penuh kasih sayang, dan sangat kami hormati ternyata sampai hati untuk berselingkuh dengan wanita lain. Aku menatap wanita selingkuhan papa dengan pandangan benci. Tiba-tiba...
PLAAAKK!!
“Aku tidak pernah mengajarimu untuk berlaku kurang ajar terhadap suami!” bentak papa. Mama jatuh tersungkur. Sudut bibirnya mengeluarkan darah. Aku dan mbak Mirna langsung menghambur ke arah mama.
“Cukup, Pa!”
Terdengar teriakan kak Rendra disusul dengan suara gebrakan di meja. Papa menoleh dan mendapati kak Rendra menatapnya garang. “Tidak usah ikut campur, Ndra!” kata papa.
“Rendra punya hak, Pa!”
Kak Rendra maju mendekati papa. Jarak keduanya kini tidak kurang dari sepuluh senti. “Papa hidung belang!” kata kak Rendra dengan suara pelan namun tegas. Papa langsung memukul kak Rendra.
“Kurang ajar kamu!”
“Papa yang kurang ajar. Papa tega menelantarkan keluarga hanya karena wanita ini!” kata kak Rendra. Kak Rendra berlari ke kamar dan kembali dengan membawa tas ransel. “Rendra nggak tahan tinggal di rumah ini lagi!”
“Kakak jangan pergi!” kataku sambil memeluk kak Rendra dari belakang. Kak Rendra mengibaskan tanganku dan menatapku tajam. “Lebih baik kakak pergi dari pada harus tinggal dengan hidung belang!”
Sejak saat itu kak Rendra tidak pernah kembali ke rumah. Suasana di rumahpun menjadi tidak terkendali. Akhirnya, dengan terpaksa mama dan papa bercerai. Hal ini membuatku jatuh. Aku tidak pernah mengira semuanya akan berakhir seperti ini. Sampai pada suatu pagi, dua orang polisi mendatangi rumahku.
“Selamat pagi. Kami dari kepolisian,” kata seorang polisi sambil menunjukkan kartu identitas. Aku yang membukakan pintu langsung menyilakan mereka masuk.
“Tidak usah, Mbak. Kami hanya ingin bertemu dengan nyonya Nurti. Apa beliau ada?” tanya polisi itu. Aku langsung memanggil mama. Tak lama kemudian mama datang dengan tergopoh-gopoh.
“Maaf, ada keperluan apa Bapak dengan saya?”
“Putera Anda, Rendra, kami tahan karena menggunakan narkoba,” kata polisi. Mama langsung beristigfar dan mengelus dadanya. “Dan sekarang saudara Rendra dirawat di rumah sakit karena menderita over dosis.”
“APA?!”

+++

“Sayang, bangun. Kak Rendra kritis.”
Aku membuka mataku perlahan-lahan dan mendapati tubuhku telah terbaring di ranjang UGD. Aku mengucek mataku dan menatap mbak Mirna. “Rendra kritis,” ulangnya.
Mbak Mirna segera menarik tanganku. Antara sadar dan tidak aku ikut berlari menyusuri lorong-lorong rumah sakit. Aku mengucek mataku sekali lagi sebelum masuk ke ruang rawat kak Rendra.
Ini pasti mimpi! Aku berharap ini hanya mimpi!
Aku melihat tubuh kak Rendra kejang-kejang. Seorang suster tampak berusaha memasukkan sebuah selang melalui mulut kakakku. Mbak Mirna menghampiriku dan menangis di pundakku.
“Kata dokter sudah tidak ada harapan lagi. Mereka semua menyerah,” kata Mbak Mirna. Aku menggeleng-geleng. TIDAK! Kak Rendra tidak akan pergi secepat ini! Kataku dalam hati. Mbak Mirna terus menangis di pundakku. Tiba-tiba seorang suster datang mendekati kami.
“Siapkan diri Anda, Mbak. Kondisi Mas Rendra sangat kritis. Kami tidak yakin dapat menyelamatkan nyawanya,” kata suster. Aku tersentak dan langsung menghampiri kak Rendra dan menggenggam tangannya.
Tubuh kak Rendra tetap kejang. Suster kembali menyuntikkan cairan di lengan kak Rendra. Air mataku mulai menggenang. Tiba-tiba monitor jantung berbunyi panjang seiring dengan berhentinya kejang-kejang kak Rendra. Dokter Irham langsung melakukan resusitasi, sedangkan aku hanya dapat menangis.
Dua menit... Lima menit... Sepuluh menit...
Inilah yang kutakutkan! Dokter Irham menghampiriku dan mbak Mirna dengan kepala tertunduk. Dia mendesah panjang. “Maaf, Mbak. Kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Namun kondisi...”
Tidak perlu menunggu kata-kata itu selesai diucapkan, air mataku langsung tertumpah.

+++

Brother...
When I layed there beside you
Could you feel me there?
When I kissed you for the last time
Could you feel it?

Brother...
Would you please open your eyes?
Would you please wake up
And never hold your breath?
I need you here.

No...
I don’t want to remind it
When there was your last breath...
Your last heartbeat and you close your eyes forever..
Good bye, brother...
Mendung menghiasi langit siang itu. Semua tampak gelap. Tak lama kemudian rinai hujan mulai turun. Sepasang suami isteri yang sedang menunggu putusan cerai dan dua orang anaknya turun dari sebuah mobil. Sang suami memeluk Sang Isteri dengan erat, seakan ingin memberikan kekuatan padanya untuk tetap tegar. Sedangkan kedua orang anak mereka saling berpegangan tangan.
Tanah merah itu masih belum mengering...
Masih hangat di benak sepasang suami isteri itu saat mereka melahirkan putera keduanya. Mereka masih mengingat saat merawat anak itu bersama-sama hingga tumbuh dewasa. Sang isteri menangis di pelukan suami, begitu juga dengan kedua anak mereka. Mereka masih tidak percaya saat melihat batu nisan yang tertanam di sebuah pusara.

Muhammad Rendra Adirangga
Lahir: 20 Maret 1985
Wafat: 19 Mei 2009

Dia adalah anak, kakak, sekaligus adik dari keluarga itu! Dialah kak Rendra yang sangat kami banggakan! Selamat jalan, Kakakku sayang. Kami semua sayang padamu.

+++

Love you, my rascal!

Indigo

Aku menatap kedua pasien kecilku di ruang rawat mereka dengan tatapan miris. Si sulung Rina yang berusia sebelas tahun, dan sang adik, Tyas, yang berusia delapan tahun. Mereka dilarikan ke rumah sakit karena pihak keluarga tidak mampu lagi mengendalikan tingkah mereka yang sering uring-uringan. Pagi itu Rina dan Tyas sedang asik bermain boneka. Saat aku mengucapkan salam, tidak seorangpun dari mereka yang mempedulikan sapaanku.
“Rina sudah makan pagi ini?” tanyaku. Rina menggeleng dan kembali sibuk dengan bonekanya. Aku memberi isyarat kepada suster untuk menyediakan makanan untuk Rina.
“Tyas sudah makan?” tanyaku. Tyas diam. “Kalau begitu Tyas disuntik dulu ya,” kataku sambil mengelus kepala anak itu. Tyas menggeleng keras-keras dan mulai berteriak histeris, “Nggak mau! Tyas nggak mau disuntik!”
Tyas mengayunkan kedua tangannya dan memukuliku sejadi-jadinya. Aku segera meminta suster untuk memegangi Tyas dan menyiapkan cairan penenang minor. Perlahan-lahan kusuntikkan obat itu dan membiarkan tubuh Tyas terbaring di ranjang. Tiba-tiba terdengar isakan halus dari sudut ruangan. Saat aku menoleh, ternyata Rina tengah duduk memeluk kedua kakinya dan menangis.
“Aku takut. Kamu pasti akan membunuhnya, kan? Dan selanjutnya kamu akan membunuhku juga, sama seperti penculik itu membunuh mama. Iya kan?” Tanya Rina sambil terisak-isak. Aku segera menyuntikkan obat di lengan Rina.
“Aku tahu siapa pembunuh mama. Aku tahu mama dibunuh oleh… oleh…”
Aku mengelus-elus kepala Rina dan membiarkan matanya menutup perlahan-lahan. Aku melanjutkan visitku kepada pasien yang lain.

+++

“Aku tahu siapa yang membunuh mama. Aku tahu.”
Kata-kata itu terus terngiang sampai aku kembali ke rumah malam itu. Entah mengapa kata-kata itu terdengar cukup meyakinkan di telingaku. Aku mengendarai mobilku dengan kecepatan sedang sambil terus memikirkan kata-kata itu.
Sesampainya dirumah, aku dikejutkan dengan dua orang polisi yang telah duduk bersama mamaku di ruang tamu. Tanpa basa-basi, kedua polisi itu mengemukakan tujuannya. “Kami sedang menyelidiki kasus yang ada hubungannya dengan pasien Dokter yang bernama Rina,” kata polisi itu. Aku mengangguk-angguk. “Beberapa orang tetangga pasien melaporkan sebuah kasus, bahwa ibu si pasien meninggal dengan tidak wajar.”
Aku mendesah dan mendengarkan keterangan polisi lebih lanjut. Ingatanku kembali pada saat Rina dibawa ke rumah sakit beberapa hari yang lalu. Dia tampak begitu kurus, pucat, dan ketakutan. Beberapa orang keluarga yang mengantarknnya kuminta menunggu diluar sehingga aku dapat melakukan anamnese, tanya jawab antara dokter dan pasien, dengan tenang.
“Mama saya dibunuh, Dok. Bukan meninggal karena kecelakaan,” kata Rina saat aku berusaha menenangkannya. Aku terdiam dan membiarkan anak itu bercerita lebih lanjut. “Dokter harus percaya pada saya, Dok. Anda boleh menganggap saya gila, tapi saya bersumpah atas nama Tuhan, mama saya meninggal karen dibunuh. Bukan kecelakaan,” kata Rina sebelum jarum suntik menembus lengannya.
“Bagaimana, Dok. Apa Anda bersedia membantu kami?”
Aku tergagap saat mendengar pertanyaan polisi itu. Aku segera mengangguk dan menjawab, “Baik, Pak. Saya akan membantu sebisa saya.” Kedua polisi itu mengucapkan terimakasih dan dengan sedikit tergesa-gesa meninggalkan rumah kemudian kembali ke tempat kerja masing-masing.
Aku melepas sepatu dan menggerai rambutku kemudian masuk ke kamar. Kurebahkan tubuhku di atas ranjang. Beberapa menit kemudian aku memutuskan untuk tidur karena telah berkali-kali menguap.

“Aku tidak akan membiarkanmu melakukan itu Hendra!”
“Apa maumu, wanita liar! Dia anakku. Aku berhak melakukan apapun tehadap anak itu!”
“Tidak, Hendra. Kalau kau akan melakukannya, langkahi dulu mayatku!”
“Baiklah kalau itu maumu!”
“Ahhh!!!!”

Aku membuka mataku dan mendapati mama telah duduk disamping tempat tidurku. Ternyata aku bermimpi. Kuraba leher dan tengkukku. Keringatku membanjir meskipun AC di kamar menunjukkan angka 18 derajat Celsius. Suhu yang cukup dingin untuk membuat manusia normal berkeringat. Keesokan paginya, aku telah berada di rumah sakit pada pukul tujuh lewat lima menit. Seorang dokter spesialis jiwa dari Jakarta akan datang berkunjung ke rumah sakit. Saat akan visit pasien, aku dikejutkan oleh Rina yang melambaikan tangannya dan memintaku mendekat.
“Ada apa Sayang?” tanyaku sambil berjongkok di depannya. Rina menyibakkan rambutnya kemudian dengan penuh keyakinan dia bertanya, “Dokter sudah memimpikannya kan?”
Dahiku berkerut. Dengan sedikit kebingungan aku bertanya, “Apa maksudmu?” Rina tersenyum kecil. “Itulah yang sebenarnya terjadi kepada mama, Dok,” kata Rina sambil berlalu. Aku hendak bertanya lebih jauh namun seorang suster mendatangiku dan memintaku untuk segera datang ke aula pertemuan karena tamu sudah datang. Dengan berlari kecil aku menuju ke aula itu. Saat memasukinya, kulihat seorang dokter sedang memasuki ruangan melalui pintu utama.
“Selamat pagi, Rekan-rekan sekalian,” sapa dokter itu. Semua menjawab salam itu kemudian duduk di tempat duduk masing-masing. “Sebelumnya perkenalkan, saya Rizal, dokter spesialis jiwa yang saat ini sedang menyusun desertasi saya untuk mendapatkan gelar doktor. Desertasi saya adalah mengenai sifat bawaan yaitu indigo,” katanya. Saat dokter Rizal mengemukakan hasil penelitian yang telah dilakukannya selama tiga tahun, tiba-tiba aku teringat pada Rina.

+++

“Jadi bagaimana menurut dokter tentang pasien itu?” tanyaku saat aku berkonsultasi dengan dokter Rizal dua hari setelah kedatangannya. Dokter Rizal tampak tertarik dengan apa yang sedang kubicarakan. Dia mengangguk-angguk dan memintaku menemaninya visit keesokan harinya. Dengan senang hati aku menyetujuinya.
Malam itu aku pulang sedikit terlambat sehingga terpaksa membangunkan mama yang telah terlelap. Seperti biasa aku langsung merebahkan tubuhku di tempat tidur dan mengevaluasi beberapa kegiatan pada hari itu. Tak lama kemudian terlelap.

“Bah! Diam kau, bocah! Aku bapakmu yang aseli.”
“Bohong! Mama… mama..”
“Diam atau kugorok lehermu dengan pisau ini! Sekarang diam!”
“Lepas! Lepaskan!”

Aku terbangun dari tidurku dengan nafas terengah-engah. Segera kucari segelas air dan meminumnya sampai tandas.

+++

“Anda baru satu tahun menjadi dokter jiwa. Saya rasa Anda masih membutuhkan pengalaman lagi,” kata dokter Rizal saat kami sampai di ruang rawat Rina. Dokter Rizal membuka pintu dan berseru ramah, “Selamat pagi anak-anak!”
Seketika itu pula Rina dan Tyas menjawab salam dokter Rizal dengan lantang. Satu hal yang sangat jarang terjadi padaku. Mereka langsung menghambur ke arah dokter Rizal dan satu persatu berebutan memeluknya.
“Anak-anak, saya butuh bantuan kalian,” kata dokter Rizal. Semua anak langsung duduk di kursi yang telah disediakan. Hal kedua yang belum pernah terjadi padaku. Saat ditanya soal pribadipun tidak ada salah satu dari mereka yang berteriak histeris bahkan mengamuk.
“Sekarang saya akan mengajak Tyas berjalan-jalan. Rina, ceritakan semuanya kepada dokter Mita,” kata dokter Rizal sambil menggandeng Tyas. Aku tertegun. Cerita? Cerita apa? Apa yang dimaksud oleh dokter Rizal? Batinku bingung. Tiba-tiba saja Rina telah menepuk punggungku. “Mau mendengar ceritaku, Bu Dokter?” tanyanya. Kontan aku mengangguk. Rina menggengnggam tanganku dan dengan sekali sentak aku dibuatnya tidak sadar...

Keluargaku adalah keluarga yang bahagia. Papa adalah suami yang penuh tanggung jawab. Beliau adalah seorang pengusaha kayu jati yang memiliki lahan yang cukup luas. Mama adalah seorang ibu rumah tangga yang pandai mengurus keluarga. Aku sendiri adalah anak pertama. Aku memiliki seorang adik perempuan bernama Tyas. Kami hidup bahagia sampai suatu hari ada seorang laki-laki yang datang ke rumahku. “Ini Papa, Nak,” kata lelaki itu. Aku menggeleng keras-keras dan menolak ajakan lelaki itu untuk pergi dengannya.
Pada suatu hari, laki-laki itu mendatangiku saat rumah sedang sepi. Papa dan mama sedang menghadiri acara penting di Solo. Tinggallah aku dan Tyas yang tinggal dirumah. Lelaki itu menggendongku dan Tyas dan membawaku bersamanya. Beruntunglah mama mengetahui hal itu. Beliau segera memacu mobilnya dan mengejar mobil yang membawa kami. Akhirnya kami sampai di sebuah rumah kosong. Lelaki itu menyekapku dan Tyas di sebuah ruangan yang gelap dan pengap. Aku dan Tyas tidak kuasa melawan saat tubuh kami diikat. Tak berapa lama kemudian, terdengar ketukan di jendela yang ada tepat di atas kami. Aku dan Tyas berteriak sekuat tenaga, namun hasilnya nihil. Akhirnya kami menendang barang-barang yang ada di sekitar kami dan membuat mama mengetahui posisi dimana kami disekap.
Kami hampir selamat ketika laki-laki itu masuk dan mendapati mama sedang melepaskan ikatan tali kami. Dia membawa sebilah golok di tangannya. Mama langsung merentangkan kedua tangannya dan berdiri dengan tegak di hadapan kami.
Lelaki itu terus merangsek mama. Mama tersudut, mama terpojok. Saat lelaki itu akan menjangkau tubuh kami, tiba-tiba mama bangun dan memukul kepalanya. Darah langsung menetes dari kepala lelaki itu. Sebelum dia sadar, mama menghampiri kami dan berusaha membuka ikatan yang melilit tubuh kami.
Namun tiba-tiba lelaki itu bangkit saat mama berhasil melepaskan ikatan kami. Dimintanya kami untuk segera pergi dari tempat tersebut. Kami hanya dapat menurut. Setelah meminta kami keluar, mama menahan lelaki itu agar tidak mengejar kami. Namun apa yang kami lihat? Lelaki itu dengan ganasnya menusuk perut mama! Aku menjerit dan berlari menolong mama, namun mama melarang. Beliau masih sempat memegangi kaki lelaki itu dan berteriak, “Ini permintaan mama yang terakhir, Nak. Lari! Lari dan cari pertolongan!”
Aku dan Tyas berlari tidak tentu arah. Untunglah kami menemukan sebuah rumah yang terletak agak jauh dari tempat kami disekap…

“Sudah Dok?”
Aku tergagap mendengar pertanyaan itu. Saat kesadaranku kembali aku mendapati Rina sedang tersenyum penuh arti. Aku memandangnya kemudian segera membawanya keluar untuk memberitahu dokter Rizal.
“Dok, Dokter…”
Terengah-engah aku memanggil dokter Rizal yang tengah bermain dengan Tyas. Aku menghampirinya dan berkata dengan panik, “Kita harus menemui polisi dan menceritakan semua,” kataku. Dokter Rizal tersenyum. Tanpa pikir panjang, aku menggandeng tangannya untuk menemui polisi. Tiba-tiba aku tersentak.
“Dokter sudah tahu tentang semua ini?” tanyaku. Dokter Rizal mengusap dagunya. Aku memandangnya tidak percaya. “Kenapa Dokter tidak mengatakannya sebelumnya? Kenapa Dok?”
“Ya, saya memang telah mengetahui semuanya,” jawab dokter Rizal. Dia merangkul Rina dan membiarkan anak itu berdiri di depannya.
“Lalu bagaimana Anda dapat mengetahuinya? Em… maksud saya, bagaimana Anda dan Rina bisa mengetahui semuanya?” tanyaku penasaran. Dokter Rizal dan Rina yang mendengarnya tersenyum bersamaan.
“Karena kami indigo.”

+++

Sebuah Cerpen karya:
Noorlaksmita Yonas Ramadhanty
Yogyakarta, 13 Oktober 2008

Prince Heboh

“Kyaaa!! Ternyata Raden Mas Rucita Rahma cakep banget orangnya!”
Metha berteriak heboh saat dia dan ketiga orang temannya makan di kantin. “Gue pikir orangnya kampungan. Ternyata enggak! Eh, eh, lo tau nggak?” lanjut Metha bersemangat. Ketiga orang temannya langsung memasang telinga.
“Pajero Sport warna merah yang parkir di depan sekolah itu punya dia!” teriak Metha. Heboh seketika. Semua siswi di SMA Taruna tahu bahwa pada hari itu mereka kedatangan seorang murid baru bergelar Raden Mas. Awalnya, rencana kedatangannya disambut sinis oleh seluruh cewek penghuni sekolah. Hah? Jaman gini masih ada Raden Mas? Pasti orangnya kampungan! Namun pandangan mereka berubah saat Yongki, panggilan Raden Mas Rucita Rahma, datang bersama dua pengawal pribadinya pagi tadi.
“Sebodo amat sama kalian, tapi buat gue, Pajero melambangkan kekayaan yang tiada tara!” lanjut Metha disambung dengan “Huuu” dari teman-temannya. Mereka masih tertawa-tawa saat seorang cowok berpenampilan rapi duduk di bangku persis di meja sebelah mereka.
“Bener juga kata lo, Meth. Lumayan tuh buat temen jalan,” kata Rahma, teman Metha. Metha tertawa senang. “Kenapa nggak lo incer aja? Siapa tau lo dapet warisan pabrik batik dari bokapnya!”
“Hahahaha!”
#
Keesokan harinya, Yongki kembali duduk tepat di samping meja Metha cs lebih karena terpaksa karena bangku yang lain penuh terisi.
“Gue yakin banget kalo dia cowok romantic,” kata Metha sambil memasukkan sebutir bakso ke mulutnya. Tiga orang temannya mengernyitkan dahi. “Gue kemaren ngintip isi mobilnya. Guess what?” Tanya Metha sambil mengerlingkan matanya. “Ada sebatang mawar putih di jok tengahnya. Jarang banget kan, ada mobil cowok yang begitu?”
“Ah, biasa aja kali, Meth. Eh, jangan-jangan mawar itu buat pacarnya,” kata Alya. Wajah Metha berubah. “Jangan dong… Raden Mas itu punya gue,” katanya sambil meratap.
Mawar putih? Raden Mas? Aku tahu siapa yang sedang mereka bicarakan!
#
Keesokan harinya, Yongki sengaja duduk di samping meja Metha cs. Seperti biasa, mereka tidak mempedulikan Yongki yang duduk dengan berbagai macam makanan di meja.
“Guys! Gue dapet nomer hapenya!” kata Metha sambil mengeluarkan HPnya. Heboh sejenak. Semua anggota geng ingin menyalinnya, namun dilarang oleh Metha. “Nggak ada yang boleh nyentuh apa lagi nyalin nomer HP dia dari HP gue!” bentaknya.
“Elo Meth, pelit amat. Bagi-bagi dong sama kita,” kata Alya disambut dengan anggukan oleh anggota geng lainnya. Metha menggeleng. “Kalian boleh nyalin nomer HPnya setelah gue ngedate sama dia.”
“Hah? Ngedate? Kapan?” Tanya Alya lagi. Metha mengerlingkan matanya. “Hm… secepatnya deh. Gue nggak sabar pengen kenal lebih jauh sama dia,” jawab Metha sambil meletakkan kedua tangannya di pipi. “Gue juga nggak sabar buat tau seberapa kaya orangnya.”
Deggg…
“Yah… kalian tau kan, selama ini gue nggak pernah pacaran sama orang miskin. Selera gue kan beda sama cewek-cewek yang lain. Gue jamin, Raden Mas itu bakalan gue taklukkan! Kalian denger itu!” kata Metha sambil memandang wajah teman-temannya satu persatu.
Oke, fine. Kita liat aja nanti…
#
“Hai… Raden Mas Rucita Rahma?”
“Iya, saya sendiri. Siapa ya?”
“Gue Metha, anak kelas IPA 6. Gue cewek paling terkenal di sekolah. Pastinya lo tau kan?”
“Oh. Iya. Ada apa ya?”
“Lo mau nggak, ngedate sama gue besok hari sabtu?”
“Oke.”
“Hah? Oke? I… Iya. Kita ketemu di resto aja. Makasih ya. See you.”
#
“Gimana acara ngedate lo kemaren?”
“Iya. Cerita dong.”
“Kita udah nggak sabar nih.”
Metha cs duduk di meja kantin. Yongki yang duduk di samping meja mereka segera membekap mulutnya agar suara tawanya tidak terdengar. Metha tampak gusar. “Nggak usah nanya-nanya!” bentaknya.
“Emangnya kenapa? Jangan-jangan lo batal ngedate ya, sama Raden Mas itu?”
“Iya nih. Wah, kemampuan lo diragukan deh.”
“Masa cewek setenar lo nggak bisa naklukin cowok itu sih?”
“Gue bilang nggak usah nanya-nanya! Denger nggak sih!” bentak Metha sambil menyilangkan tangannya di depan dada. Yongki tersenyum geli. Acara ngedate itu tidak batal. Sukses besar malah. Yongki tahu Metha belum pernah bertemu langsung dengannya. Dia juga tahu bahwa selama ini Metha mengetahui wajahnya hanya melalui foto. Maka, dengan sedikit make over, Yongki berubah menjadi cowok super culun berkacamata yang heboh kalau ditanya soal batik saat ngedate bareng Metha. Terlintas kembali kejadian malam itu yang membuat Metha malu setengah mati. Saat itu mereka sedang makan di sebuah restoran elit.
“Wah, bapakku itu pemilik pabrik batik terbesar di Jogja lho, Mbak. Suer tenan deh. Batiknya bagus-bagus lho, Mbak. Motifnya banyak lagi. Ada laba-laba, kembang mawar, kembang sepatu, kembang seroja, bunga bangkai juga ada Mbak! Lengkap! Kalau buat Mbak, tak kasih murah wis. Gimana? Tak telponin sekarang po, ke bapakku? Biar langsung bisa dikirim ke Jakarta, gitu. Oya, Mbak. Saya ndak bawa dompet. Mbak saja ya, yang bayar? Nanti batiknya didiskon deh.”
Yongki tersenyum dan meraba pipi kirinya yang masih terasa perih.

Perfect

Aku merebahkan tubuhku di ranjang. Dengan malas kubuka kembali kertas selebaran yang diberikan oleh guruku tadi siang. Olimpiade kedokteran. Uuh... Apa mereka tidak salah pilih? Padahal masih ada Lia yang jago kimia atau Leon yang selalu menyabet ranking pertama kelas paralel. Belum lagi siswa-siswi lain yang mengikuti berbagai macam olimpiade berjibun banyaknya. Heran, apa mereka benar-benar tidak salah pilih?
”Mita... ayo makan dulu!” kata mama sambil mengetuk pintu kamarku. Aku bangkit, membuka pintu, dan mengikuti mama ke meja makan. ”Hari ini Mama masak sayur kesukaanmu,” kata mama. Beliau tahu benar aku akan makan banyak kalau ada sayur favoritku. Namun kali ini tidak.
”Kamu nggak kenapa-napa, kan?” tanya mama. Aku menggeleng dan menyendok nasi. Pikiranku tetap terfokus pada olimpiade kedokteran itu. Aku sama sekali tidak berminat mengikuti lomba itu meskipun aku ingin menjadi dokter kelak. Tapi guruku dengan enaknya bilang, ”Tidak bisa, Nak. Kamu sudah saya daftarkan.” saat aku menolaknya.
Enak di elo, enggak enak di gue dong!
”Hei hei. Kamu mikirin apa sih? Kok kayak nggak selera makan begitu?” tanya mama. Aku menggeleng dan menjauhkan piringku. ”Aku ada masalah di sekolah, Ma,” kataku tiba-tiba. Mama berhenti mengunyah kemudian menatapku. ”Coba liat deh, Ma,” kataku sambil menyerahkan kertas pengumuman lomba itu. Mama tersenyum lebar.

+++

Keesokan paginya...
”Mita... Ada telepon,” kata mama dari bawah. Aku yang baru saja keluar dari kamar mandi segera turun dan menemui mama. ”Dari siapa Ma?” tanyaku. Mama menggedikkan bahu.
”Halo...”
”Halo. Ini Mita?”
”Iya. Ini siapa ya?”
”Kenalin, gue Brian. Gue disuruh sama guru lo untuk membimbing lo buat persiapan olimpiade kedokteran. Apa nanti kita bisa ketemu di sekolah?”
”Oh iya, iya. Jam tujuh gue udah nyampe kok.”
”Thanks. Gue tunggu di sekolah ya!”

Di sekolah...
”Mita... Mita Pharameswari kelas IPA 3. Are you there?” tanya Thomas, ketua kelas yang mengidap penyakit ayan akut karena entah mengapa tubuhnya selalu gemetar. Di belakangnya tampak seorang cowok atletis berpakaian rapi dan bersepatu kets.
”Ada yang nyariin lo,” kata Thomas. Aku mengernyitkan dahi saat bertemu dengan cowok itu. Tiba-tiba tangannya terjulur. ”Mita ya? Gue Brian yang tadi pagi telepon lo,” kata cowok itu. Aku menepuk dahiku dan membalas tangannya. ”Oh iya. Gue Mita. Salam kenal,” kataku. Brian tersenyum.
”Kita harus ketemu guru lo dulu. Soalnya beliau yang udah merekomendasikan gue buat membimbing lo,” kata Brian. Aku hanya mengangguk.
”Eh iya. Emangnya lo kuliah semester berapa sih?” tanyaku saat kami berjalan di koridor sekolah. Brian tersenyum kecil. ”Tebak coba,” kata Brian. Aku segera menatap wajahnya.
”Semester empat?” tanyaku. Brian menggeleng. ”Gue udah jadi co-ass kali,” jawab Brian. Aku ternganga dan menatap Brian tidak percaya. ”Lulus SMA umur enam belas taun. Lulus kuliah empat taun kemudian,” kata Brian. Kali ini mulutku terbuka lebar. Enam belas tahun lulus SMA? Aku yang berumur tujuh belas tahun saja masih duduk di kelas tiga. Hebat!
”Terus program co-ass lo gimana? Nggak terganggu sama pembinaan?” tanyaku. Brian memasukkan kedua tangannya di saku celana jeansnya. ”Sebenernya sih iya. Tapi gue rela kok. Asalkan lo berusaha sungguh-sungguh dan serius,” jawab Brian. Aku mengangguk. ”Janji?” tanya Brian sambil menjulurkan jari kelingkingnya. Aku tersenyum.
”Janji.”
Aku tertawa lebar, begitu juga dengan Brian. ”Nah, itu guru gue. Masuk yuk,” ajakku. Tanpa kusadari tanganku telah menggandeng tangan Brian dan menariknya masuk.

Laboratorium Fakultas Kedokteran
”Welcome to my campus,” kata Brian sambil membuka pintu laboratorium. Beberapa mahasiswa yang sedang asik mengamati sesuatu tampak melirik kami sekilas, lalu kembali menekuni kegiatan masing-masing.
“Lo boleh pake jas lab gue,” kata Brian sambil menyerahkan sebuah jas berwarna putih. Aku segera menerimanya. ”Sori, bau alkohol sedikit,” kata Brian sambil mengambil sebuah jas berwarna sama yang digantung dibalik pintu.
”Gue lebih menekankan praktek daripada teori. Gue akan jelasin teori sambil lo praktek. Lo nggak ada masalah kan sama sistem ngajar gue?” tanya Brian lagi. Aku menggeleng. Brian tersenyum.
”OK, kita mulai dengan anatomi tubuh manusia. Konsenterasi, jangan mudah terpengaruh lingkungan. Gue percaya lo bisa,” kata Brian. Dia menarik tanganku dan menunjukkan sebuah tiruan tubuh manusia lengkap dengan pembuluh darah dan kelenjar-kelenjarnya. Penjelasan Brian yang gamblang membuatku mudah memahami materi yang diajarkan. Syukurlah, karena sebenarnya aku bukanlah anak yang mudah menghafal materi baru.
”Ngerti?” tanya Brian setelah dia selesai menjelaskan. Aku mengangguk dan mengacungkan dua ibujari tanganku. Brian tersenyum. ”Sekarang gue pengen ngajarin lo tentang jantung dan pembuluh darah. Kita belajar ngukur tekanan darah dulu,” kata Brian.
”Gue bisa,” kataku sambil mengambil tensimeter yang telah dipersiapkan oleh Brian. Brian tampak kaget, namun tetap membiarkanku menggulung lengan bajunya dan mengukur tekanan darahnya. Tiga menit kemudian...
”Tekanan sistole 120, diastole 90. Normal. Bener kan?” tanyaku pada Brian. Brian segera mengukur tekanan darahnya sendiri dan tersenyum. ”Correct. Kayaknya gue nggak harus ngajarin ini lagi ke lo. Kita pindah ke ruangan selanjutnya,” kata Brian. Begitu seterusnya sampai kami tidak menyadari jam telah menunjukkan pukul empat sore. Brian menyudahi pembinaan itu dan mengajakku makan di kantin.
”Sorry ya, gue bikin lo telat makan,” kata Brian sambil membawa nampan makanan. Dua piring steak dan dua gelas orange juice segera terhidang.
”Nggak kenapa-napa lagi. Asik kok,” kataku sambil menyedot minumanku. Brian tersenyum. ”Lo hebat, Ta. Lo bisa ngerti semua yang gue jelasin. Jarang gue nemuin anak SMA yang cerdas seperti lo.”
Aku tersenyum malu. Aku dan Brian makan tanpa banyak bicara. Setengah jam kemudian kami telah meluncur pulang.

+++

Keesokan harinya...
”Gimana persiapan kamu, Nak?” tanya papa saat aku, mama, dan beliau makan bersama di meja makan. “Persiapkan dengan baik dan serius. Ini juga kesempatanmu untuk mendapatkan pengalaman baru,” kata papa. Aku hanya mengangguk-angguk.
Tiin... tiin...
Terdengar bunyi klakson mobil. Aku segera mencium tangan papa dan mama kemudian segera menemui Brian yang datang dengan Toyota Fortunernya.
”Pagi. Udah siap untuk liat kadaver?” tanya Brian saat aku membuka pintu mobil. Aku terseyum dan mengangguk. Giliran Brian yang menatapku aneh. Dari mana anak ini tahu istilah kadaver? Batinnya.
“Gue tau dari buku ini,” kataku sambil mengambil sebuah kamus kedokteran milik salah satu teman mama yang sengaja kupinjam untuk persiapan lomba.
“Bagus kalo gitu. Berarti lo udah tau istilah-istilah lain selain mayat?” tanya Brian. Aku mengangguk. Brian mengacak-acak rambutku. “Wah, thanks banget ya atas usaha lo. Gue nggak perlu kerja terlalu keras untuk membimbing lo,” katanya. Aku tertawa. Hari ini Brian akan mengajakku melihat organ tubuh manusia yang asli dengan mengorek-korek kadaver. Menurut kamus yang kubaca, kadaver berarti mayat.
”Nggak takut sama darah kan?” tanya Brian sambil memutar stir dan menginjak pedal gas. Aku menggeleng. ”Bagus. Itu berarti kita nggak akan nemuin kendala nanti. Gue bawa beberapa status pasien. Coba lo pelajari dulu. Kalo ada pertanyaan, langsung aja tanyain ke gue,” kata Brian. Aku mengangguk dan mengambil sebuah map yang ada di kursi belakang dan mulai membaca-baca.
Sepuluh menit kemudian aku telah rapi berpakaian jas lab dan menunggu Brian yang sedang mencari beberapa barang yang kami butuhkan untuk bimbingan kali ini. Tak lama kemudian Brian kembali dan memberikan sehelai baju khusus operasi.
”Kita liat sesi bedah aja hari ini, mumpung ada yang mahasiswa yang praktek. Tenang, nggak pakai manusia asli kok,” kata Brian sambil membantuku yang terbalik memakai baju operasi. Tak lama kemudian beberapa orang mahasiswa-Brian bilang mereka itu residen bedah-datang dengan setengah berlari. Brian tampak berbicara sebentar dengan mereka kemudian mengajakku masuk. Semua residen bedah segera menempatkan diri di samping meja operasi sedangkan aku dan Brian berada di ruangan terpisah, namun tetap dapat melihat proses operasi itu.
”Sekarang kita liat dulu proses sebelum pembedahan. Pertama-tama pasien dibius dulu. Bisa total, bisa lokal. Lo bisa liat cara nyuntik dan posisi dimana kita bisa nyuntikin obat bius,” kata Brian. Aku mengangguk-angguk.
”Setelah itu dilakukan proses penyayatan. Pembuluh darah yang kecil dibiarin putus, yang besar diikat dulu agar tidak terjadi pendarahan. Usahakan sayatan itu dekat dengan bagian tubuh yang akan kita operasi.”
Tiba-tiba Brian melingkarkan tangannya di pinggangku seolah ingin memelukku. ”Lo liat deh, cara mereka bikin sayatannya,” kata Brian setengah berbisik. Tiba-tiba aku tidak dapat berkonsenterasi lagi dan hanya dapat merasakan desahan lembut nafas Brian yang sibuk menjelaskan ini itu. Semuanya tampak begitu mempesona. Apakah aku…

+++

Akhirnya hari yang sangat ditunggu-tunggu tiba. Hari perlombaan olimpiade kedokteran. Aku memakai jas putih pemberian Brian dan memasang kancingnya satu persatu. Aku, mama, dan papa segera meluncur ke tempat perlombaan.
”Hai, Yan!” sapaku saat melihat Brian duduk di salah satu kursi penonton. Brian berbalik dan tersenyum. Dia mengulurkan tangannya dan menjabat tanganku. ”Lo pasti bisa,” katanya. Aku tersenyum. Selanjutnya para peserta dikumpulkan di salah satu ruangan dan diberi pengarahan oleh panitia. Aku mulai unjuk kebolehan dengan unggul dari babak pertama hingga semifinal. Namun, salah satu pertanyaan juri cukup membuatku kelimpungan di babak final. Lawanku sungguh lihai dalam sesi debat ini. Sial! Kalau tahu begini aku belajar berdebat juga!
Kali ini tidak ada waktu untuk berpikir karena waktuku hanya tersisa beberapa detik dan jika pertanyaan tersebut tidak dijawab, maka nilaiku akan dikurangi. Akhirnya aku menjawab pertanyaan itu dengan ragu-ragu dan jelas dapat menjatuhkan poinku. Aku tertunduk saat turun panggung.
”Maafin gue, Yan,” kataku saat turun dari panggung dan mendapati Brian menungguku disana. Air mataku mulai menetes. Brian segera merengkuhku dalam pelukannya. Dia tahu jawabanku pada soal yang terakhir dapat menghilangkan kesempatanku untuk menang.
”Lo udah melakukan yang terbaik. Lo hebat, Ta. Gue salut sama lo. Lo nggak usah menyesali semua yang udah terjadi. OK?” tanya Brian. Aku mengangguk dan mengusap air mataku. Brian mengajakku duduk.
”Jujur… Sejak pertama kita ketemu gue langsung suka sama lo,” kata Brian. Aku diam dan menatap mata elangnya. Brian tampak gugup. “Gue suka semangat lo. Gue suka lo apa adanya. Pokoknya lo perfect buat gue. Lo mau nggak jadi…”
Tiba-tiba terdengar suara dari pengeras suara. Pengumuman kejuaraan. Brian langsung terdiam sedangkan aku memegang tangan Brian dengan erat. Dia balas menggenggam tanganku dengan lembut. Dewan juri mulai membacakan hasil perlombaan. Namaku tidak disebut pada urutan kedua dan ketiga.
”Kayaknya gue nggak ada harapan buat menang deh, Yan,” kataku sambil melepaskan tangan Brian. Brian mengelus punggungku. ”Lo udah berjuang, Ta. Jangan menyesal gitu,” kata Brian. Aku menunduk. Tidak kupedulikan dewan juri yang hendak membacakan pengumuman pemenang pertama. Tiba-tiba…
”Juara pertama kita dengan skor 2835 diraih oleh... Mita Pharameswari!”
Aku langsung menatap Brian tidak percaya. Brian tertawa lebar dan merentangkan kedua tangannya. Aku langsung memeluknya.
”Gue menang, Yan!”

+++

Bagaimana kualitas cerpen yang baru saja anda baca?