Senin, 26 Juli 2010

My Brother Brings Me Home

Cerpen ini dibuat untuk mengenang teman kami tercinta, Falentina Airin, yang meninggal akibat kanker otak yang dialaminya lima bulan yang lalu. Dia adalah teman sekaligus sahabat kami yang cerdas dan selalu ceria. Kami tidak pernah mengira penyakit itu akan merenggut nyawanya tepat beberapa minggu sebelum UM UGM 2010 dilaksanakan. Rest in peace, my best friend…
+++
Dear Luna “Love”
Bagaimana kondisi kesehatanmu? Kuharap aku bisa segera pulang setelah semua urusanku selesai…
Love you,
Arya
Arya mendesah dan memejamkan mata. Jadwal yang padat membuatnya sedikit kelelahan hari ini. Dia tidak berharap akan mendapat balasan dari email yang dikirimnya malam itu, namun sebuah email baru telah menghuni inboxnya.
Lovely Arya…
I miss you so much… Aku baik-baik saja… Selesaikan saja urusanmu dan selamatkan nyawaku…
Luna “Love”
Arya tersenyum. Ah, dia memang selalu ada untuk mendukungku, batinnya. Arya kembali membalas email dengan senyuman lebar.
“Love” Luna…
Terimakasih… Terimakasih karena kau selalu ada disaat aku membutuhkanmu. I love you…
Arya.
Arya mematikan notebook dan menyalakan lampu meja belajarnya. Diambilnya sebuah kamus tebal dan ditelusurinya kata-kata yang ada satu persatu. Tak lama kemudian mata itu terpaku pada sebuah kata. Diambilnya lagi sebuah buku lainnya yang tidak kalah tebal kemudian diletakkan buku itu disamping kamus yang telah dibukanya lebih dulu. Dalam hatinya dia berujar, “Aku pasti bisa!”
+++
“Outstanding!” kata Dr. Carter saat Arya menemuinya di ruangan pribadinya. Arya tersenyum puas. “Thanks, but I do need some informations from you about that case,” katanya. Dr. Carter tersenyum dan duduk di depan Arya. Dia siap membuka diskusi panjang bersama murid terbaiknya.
“Can I ask you something?” tanyanya sebelum diskusi dimulai. Arya mengangguk. “Sebenarnya siapa Luna? Kenapa kau begitu berambisi untuk menyelamatkannya?” tanya Dr. Carter. Arya tampak berpikir sejenak. “Is she your girl?”
“More than just a girl, Sir. She is my everything,” jawab Arya. Dr. Carter mengangguk-angguk. “Kalau begitu kamu harus menjadi neuro surgeon secepatnya. OK, what do we get for today?” tanyanya. Arya menyodorkan beberapa lembar kertas. Dr. Carter membacanya dengan serius dan menggeleng-gelengkan kepala.
“Im sorry, it is untreatable,” kata Dr Carter sambil melepas kacamatanya. Arya mendesah. Dia sudah menduga jawabannya akan seperti itu. “There must be a way,” kata Arya lirih. Dr. Carter mendesah.
“Kamu sudah mendapatkan hasil terakhir MRI-test-nya?” tanya Dr. Carter. Arya mengangguk. “Sel jahanam itu sudah menyebar terlalu jauh,” jawab Arya sedih, namun masih terdengar optimis. Dr. Carter bangkit dan menepuk-nepuk punggung Arya. “Jangan menyebutnya dengan jahanam,” katanya. Arya menunduk. Jangan menyebutnya dengan jahanam katanya? Lalu nama apa yang akan kau berikan pada sebuah penyakit yang mengancam nyawa orang yang paling kau cintai?
“We will find the way to save her. I promise,” kata Dr. Carter menenangkan Arya. Tangannya menggenggam kedua pundak Arya. “I’m terribly sorry,” katanya lagi. Arya mengangguk. Tanpa dia sadari air matanya menetes.
+++
Dear Luna…
You have to be strong for your surgery… I miss you so much…
Arya.
Arya mendesah dan mengambil buku pemberian Dr. Carter di dalam tasnya. Menjadi seorang dokter bedah syaraf memang bukan hal yang mudah. Dia harus melalui pendidikan di fakultas kedokteran Universitas Gajah Mada selama enam tahun lamanya. Betapa beruntungnya dia saat terpilih untuk mengikuti ajang pertukaran pelajar dengan mahasiswa Harvard University dan menjadi the best student selama masa pertukaran tersebut. Dengan senang hati dia menerima tawaran untuk melanjutkan sudinya di universitas terbaik di Amerika itu.
Arya kembali mendesah untuk kedua kalinya saat membaca email balasan dari Luna. “Aku akan menunggumu, Sayang. Tetaplah berjuang.” Arya membaca email itu keras-keras. Ada sesuatu yang dirasa meletup di dalam tubuhnya. Semangat itu kembali muncul. Arya mengambil spidol berwarna merah dari laci mejanya dan kembali belajar.
“Hey, I heard someone speak Indonesia here,” kata Eric, teman satu asramanya yang baru saja masuk. Arya tersenyum dan menatap sahabatnya yang duduk di tempat tidurnya. “Belum tidur?” tanya Eric. Arya tersenyum dan menggeleng. Pikirannya kembali terfokus pada buku yang sedang dibacanya.
“Bisakah kau berhenti belajar sebentar saja?” tanya Eric sambil mengambil buku Arya yang ada di meja. Arya mendengus kesal. “I can’t,” jawabnya singkat sambil merebut kembali buku yang diambil oleh Eric. Eric tertawa geli. “Jangan sampai sel otakmu mengalami mutasi karena terlalu banyak menghafal pelajaran kedokteran,” katanya. Mau tidak mau Arya tertawa.
“I just wanna be the best student,” katanya. Eric tersenyum. “Everyday, each semester, every year,” lanjutnya. Arya hanya tersenyum. Dia selalu menerima hasil outstanding selama belajar di Harvard. Semua itu dia lakukan untuk Luna. Untuk menyembuhkan penyakit mematikan yang dialami olehnya.
“She is a strong girl, you know. Kebanyakan penderita oligodendroglioma tahap akhir tidak mampu survive,” katanya. Arya hanya mengangguk-angguk. Sulit menyembuhkan penyakit itu hanya dengan operasi, batinnya.
“Aku memiliki beberapa daftar lembaga yang mengurusi masalah kanker. Mungkin kau membutuhkannya,” kata Eric. Arya tersenyum. “Thanks, tapi Luna akan tetap tinggal dan menjalani pengobatan di Indonesia,” jawabnya. Eric menggelengkan kepala.
“You sure?” tanyanya tidak percaya. Arya mengangguk dan tersenyum. “Padahal kau sendiri pernah bilang kalau teknologi kedokteran di negaramu masih kalah jauh dengan Amerika. Kualitas dokter-dokternyapun tidak bisa bersaing dengan dokter-dokter lulusan Harvard. Bagaimana mungkin kau bisa menyerahkan Luna pada orang-orang yang tidak professional seperti itu?” tanya Eric heran.
“Aku kan dokter lulusan Harvard,” jawab Arya enteng. Eric langsung bangkit dari duduknya. “Kau tidak berencana mengobatinya sendiri kan?” tanyanya kaget. Arya terkekeh. “Aku sudah mengontak beberapa dokter ahli bedah onkologi di negaraku dan mereka siap membantu mem-follow-up Luna,” jawabnya.
“You must be kidding me!”
+++
Dear Luna…
Aku sedang mempelajari penyakit yang kau derita. Aku berdiskusi dengan temanku dan kami menemukan cara untuk mengakhiri penyakitmu. Besok aku akan bertemu dengan Dr. Carter dan berbicara dengannya mengenai masalah ini.
Your dearest Arya.
Beberapa lama kemudian sebuah email masuk.
Arya…
Terimakasih karena kau mau berjuang untukku. Melihat semangatmu yang begitu menggebu membuatku ingin hidup lebih lama lagi. I love you so much.
Luna
Tanpa terasa sebutir air mata jatuh dari mata elang Arya. Aku akan terus berusaha, Luna. Aku akan terus berjuang demi kesembuhanmu...
+++
“It might not work, Arya,” kata Dr Carter saat Arya mendiskusikan terapi yang rencananya akan digunakan untuk menyembuhkan Luna.
“It won’t work if we don’t try,” jawab Arya. Dr Carter mendengus kesal. “Now what, kau akan menjadikan Luna sebagai kelinci percobaanmu?” tanyanya. Arya langsung menunduk. “Don’t be so selfish. Kau harus berpikir ulang untuk menerapkan metode ini pada Luna.”
“Lalu apa lagi yang bisa kulakukan untuk menyelamatkan nyawanya? Aku datang dengan berbagai solusi pengobatan namun kau selalu menolaknya mentah-mentah! She is very important for me, and I’ll do anything to save her life!” kata Arya sedikit kecewa. Dr. Carter tampak menghela nafas.
“So you have to think deeper,” kata Dr Carter menenangkan Arya. Arya terdiam. “Kau adalah mahasiswa spesialis semester akhir Harvard Medical School, and you are my best student. I know you know what you have to do. Namun kali ini kau harus mengurangi sedikit sifat keras kepalamu itu. She is untreatable. You know that. You better take her home and make her comfortable,” kata Dr Carter.
“But I can’t,” kata Arya. Dr Carter menghela nafasnya. “I lost my parents two years ago. Please, Doc. You have to understand me. She is my sister,” kata Arya sedikit putus asa. Dr Carter tampak kaget.
“Jadi Luna adikmu?”
Arya mengangguk.
“Dan dia satu-satunya anggota keluargamu yang masih hidup?”
Arya mengangguk lagi.
“You know, it will be worth it to try that methods. I’ll help you,” dukung Dr. Carter.
+++
Dear Luna…
I miss you so much… Aku akan pulang ke Indonesia bersama Dr Carter minggu ini.
Arya.
Arya menekan tombol send dan tersenyum puas. Beberapa lama kemudian sebuah email balasan masuk.
Lovely Arya…
Aku akan menjemputmu di airport!
Luna loves you.
Arya tersenyum simpul. Seandainya saja kau masih memiliki cukup tenaga untuk menungguku di ruang tunggu bandara seperti saat kau mengantarkan kepergianku ke Amerika beberapa tahun yang lalu, batin Arya. Dia segera mengetik email balasan dan mematikan laptopnya. Besok Dr Carter menunggu Arya di ruang pribadinya untuk berdiskusi. Dia harus datang lebih pagi jika tidak mau ada para interns yang meminta waktunya untuk mengajari mereka ini-itu.
Keesokan paginya…
“Dengan hasil MRI yang semakin membaik, aku optimis rencanamu akan berhasil,” kata Dr. Carter saat Arya melaporkan hasil pemeriksaan Luna. Arya tersenyum puas. Tiba-tiba ponselnya berbunyi. Arya memiliki dua ponsel. Ponsel yang pertama digunakannya untuk berkomunikasi dengan teman dan dosen-dosennya. Ponsel yang kedua digunakannya untuk berkomunikasi dengan Luna, adiknya. Ponsel pertamanya tidak mungkin diaktifkan saat dia berdiskusi dengan Dr Carter.
Luna? Ada apa?
“Sorry, Sir,” kata Arya sambil berjalan menuju sudut ruangan. Dia mengangkat telepon itu dan terdengarlah suara Luna di seberang. “Hello, Rascal!” sapa Luna riang. Arya tersenyum.
”Ada apa meneleponku?”
“Aku hanya merindukan kakakku. Ada yang salah?”
“Of course not. Hanya saja waktunya kurang tepat. Ah, Dr Carter pasti mau merelakan waktu diskusinya berkurang untukmu.”
“Kapan kau akan pulang ke Indonesia?”
“Dua hari lagi. Kau harus mempersiapkan dirimu untuk operasi.”
“Sure. Aku akan kirim email untukmu.”
“Okay. Bye, Sissy.”
+++
Dear Luna…
Besok aku pulang ke Indonesia bersama Dr Carter. Tidak sabar rasanya. Aku merindukan pelukan hangatmu itu.
Arya.
Seperti biasa balasan email itu datang begitu cepat.
Arya…
Aku juga merindukan aroma colognemu yang aneh itu… He he he… Aku menunggumu, Sayang…
Luna.
Arya tersenyum dan merebahkan tubuhnya di ranjang. Dia menoleh dan menatap dua koper sedang yang berdiri di depan lemarinya. Tunggu aku, Luna. Kau akan segera sembuh, batinnya.
Keesokan paginya, Arya dan Dr Carter bertemu di bandara. Dr Carter menyambut Arya dengan senyuman lebar. “You are ready for the journey, Kid,” sapa Dr Carter saat melihat Arya memakai baju bermotof batik berwarna merah marun. Dia mengacak-acak rambut Arya. Arya hanya tertawa. Tak lama kemudian Arya dan Dr Carter telah berada di dalam pesawat yang siap membawa mereka ke Yogyakarta.
Perjalanan yang cukup panjang membuat Arya dan Dr Carter lelah. Namun beberapa saat setelah kaki mereka menginjak tanah Indonesia (untuk Dr Carter ini adalah pengalaman pertamanya), rasa lelah itu berubah menjadi rasa senang yang membuncah. Sebuah mobil APV silver bertuliskan ”RS. BETHESDA” berhenti di depan ruang tunggu. Seorang supir segera membawa Arya dan Dr Carter ke rumah sakit.
Di rumah sakit…
Arya tertegun saat mendapati tubuh Luna tergolek lemah di ranjang ICU. Kenapa kau terlihat begitu lemah, Luna? Batinnya. Dengan perlahan dirabanya dahi sang adik. Luna membuka matanya perlahan-lahan.
“Kakak?”
Luna mengucek matanya beberapa kali. Arya segera merengkuhnya dalam pelukan. “Benar ini kau?” tanya Luna seraya memeluk sang kakak lebih erat lagi.
“Aku datang, Sayang,” kata Arya. Luna menangis haru di pelukan sang kakak. Arya melepas pelukannya dan memandangi Luna yang tubuhnya semakin mengurus.
“Kau diet ketat ya?” tanya Arya. Luna tertawa geli dan mencubit lengan sang kakak. “Tubuhku terlihat menyedihkan ya,” katanya sambil menatap mata kakaknya. Arya tersenyum dan kembali merengkuh sang adik dalam pelukannya. “Kau harus sembuh kembali,” katanya. Luna hanya mengangguk-angguk.
“Lama sekali aku tidak merasakan pelukan ini,” kata Arya. Luna tersenyum geli dan mendongakkan kepalanya menatap sang kakak. “Kemana parfummu yang berbau aneh itu? Aku merasa sedang berada di kuburan jika mencium aromanya,” balas Luna. Mereka tertawa bersama.
Seorang dokter menepuk pundak Arya, memintanya untuk ikut.
“Silakan masuk,” kata dokter itu sambil membuka pintu. Arya masuk dan mendapati Dr Carter bersama dengan beberapa dokter lainnya duduk mengitari meja marmer putih berbentuk elips. Arya menarik sebuah kursi dan duduk di atasnya.
“Ada sesuatu yang harus kami katakan pada Anda, dokter Arya,” kata seorang dokter berkepala botak. Tiba-tiba lampu di ruangan itu meredup, sejalan dengan sorotan sinar LCD pada layar yang semakin menyilaukan mata. “Itu adalah hasil terakhir MRI saudari Luna,” katanya lagi. Sekilas gambar tengkorak manusia itu tampak normal, namun mata Arya membelalak saat mendapati hampir seluruh otaknya tertutupi oleh bayangan putih.
“Sel kanker saudari Luna sudah menyebar ke seluruh otaknya. Operasi dan kemoterapi tidak bisa menolongnya,” kata satu-satunya dokter wanita yang ada di ruangan itu. Arya menatap hasil MRI itu tanpa berkedip.
“Ini bukan hasil tes terakhir Luna yang saya terima melalui email,” kata Arya tidak percaya. Semua dokter yang ada di ruangan terdiam, begitu pula dengan Dr Carter yang sejak tadi tidak mengerti pembicaraan para dokter itu.
“Kami mohon maaf. Pasien Luna sendiri yang meminta kami untuk mengirimkan hasil MRI palsu ke email anda,” kata seorang dokter berkacamata disusul anggukan dari rekan-rekannya. Mulut Arya kontan menganga.
“But why?” tanya Arya tidak percaya. Tanpa disadarinya sebutir air mata jatuh membasahi pipinya. “Pasien tidak ingin Anda khawatir dengan kondisinya yang semakin memburuk,” jawab dokter berkacamata itu lagi. Arya menghembuskan nafas panjang. “Doctor Carter, we will do the surgery tomorrow,” katanya. Tubuhnya bergetar menyadari peluang hidup sang adik sangat tipis.
Dr Carter menggeleng. “Its too risky, Dear. I’m afraid she will not awake anymore,” jawabnya. Arya menggeleng. “I will do the surgery tomorrow. Who else is with me?” tanyanya. Tidak ada satupun dokter yang mengangkat tangannya tanda setuju. Arya menggeram. ”Fine! I’ll do it my self!” katanya sambil bangkit dari tempat duduknya.
“You can’t do that, Kid. This is a big surgery. You can’t handle it alone,” kata Dr Carter berusaha menghalangi Arya yang hendak keluar ruangan.
“You are right. I can’t handle it alone. Tapi tidakkah hatimu tergerak untuk membantuku menyelamatkan adikku?” tanya Arya garang. Dr Carter tidak mengatakan apapun lagi. Arya tidak peduli dan segera menemui Luna di ruang rawatnya.
“Kenapa kau membohongiku?” tanya Arya saat mendapati Luna duduk di ranjangnya. Luna tersenyum manis. ”Mereka sudah memberitahumu?” tanyanya santai
“Untuk apa kau melakukan ini semua? Selama ini aku berjuang menjadi neuro surgeon terbaik agar aku dapat menyembuhkanmu!” kata Arya. Luna kembali tersenyum. “Kau telah menjadi dokter spesialis bedah syaraf terbaik, Kak,” katanya.
“Tapi semua ini kulakukan hanya untukmu! Untuk menyembuhkanmu!” kata Arya gusar. Matanya mulai basah.
“Penyakitku ini tidak dapat disembuhkan.”
“Siapa yang memberitahumu hal bodoh seperti itu?” tanya Arya gusar. Dia tidak dapat menutupi kegelisahannya. Sejujurnya dia mulai ragu dengan ambisinya menyembuhkan Luna. Apakah Luna benar-benar akan sembuh atau ini hanya akan membuatnya meninggalkanku lebih cepat? Batinnya.
“Why are you so stupid?!” bentak Luna. Matanya menatap Arya dengan garang. “Mahasiswi kedokteran semester dua seperti akupun tahu kalau kanker ini tidak dapat disembuhkan!”
“Jangan membuang tenagamu. Kau akan dioperasi besok,” potong Arya sambil meninggalkan ruangan. Matanya basah. Nafasnya memburu. Kau akan sembuh, Luna. Harus! Batinnya.
+++
“Silakan Dok,” kata seorang suster yang baru saja memakaikannya baju operasi. Arya mengangguk dan berdiri di samping meja operasi. Diamatinya wajah Luna yang tengah tertidur. Kakak akan mengoperasimu sekarang. Bertahanlah, batinnya. Dia berjalan menuju bagian kepala sang adik dan bersiap-siap melakukan craniotomy.
“Skalpel,” katanya. Seorang suster menyerahkan sebilah pisau pada Arya. Dengan mantap dia mulai menggores kulit kepala sang adik. Operasi berjalan lancar sampai Arya menemukan gumpalan daging yang menempel di otak Luna. Dengan sekali potong, gumpalan itu telah berpindah dari otak Luna ke sebuah tempat berwarna keperakan yang dibawa oleh suster. Tiba-tiba terjadi pendarahan.
“Bring me the sucker,” kata Arya. Dia menyedot darah sang adik dengan sebuah alat. Arya juga meminta suster menyediakan darah untuk Luna. Dua jam lamanya dia berkutat dengan pendarahan yang semakin meluas. Saat itulah Dr Carter masuk dan berdiri di sampingnya.
“She needs more blood,” kata Arya saat mendapati Dr Carter berdiri di sampingnya. Dr Carter tampak mengamati sejenak kemudian menggeleng. Dia menoleh ke arah dokter yang mengawasi monitor otak. Dokter itu juga menggeleng. Dr Carter mengerti apa yang telah terjadi.
“Arya, She is gone,” kata Dr Carter sambil memegang pundak Arya. Arya menggeleng dan terus menghisap darah di otak Luna dengan alat penghisap. “She just needs more blood. Give her more blood!” kata Arya. Seorang suster hendak menambah darah Luna namun batal saat Dr Carter menatapnya dan menggeleng.
“She is gone, Arya,” kata Dr Carter lagi. Arya tidak peduli. Dia memegang alat penghisap lebih erat saat Dr Carter hendak mengambilnya.
“Arya, look at me.”
Arya tidak peduli.
“Look at me!” kata Dr Carter sedikit membentak.
”I can’t! I have to keep focus!” jawab Arya tidak kalah membentak.
“Arya, it’s over. Don’t fight anymore. She is gone,” kata Dr Carter lembut. Arya menggeleng berkali-kali. “Give her more blood,” katanya.
“No more blood, Arya. Let her go.”
Arya berontak.
“She just needs more blood. Give her more blood. Give her more!”
Arya terduduk lemas di lantai ruang operasi.
+++

Minggu, 25 Juli 2010

Mentari di Kaki Merapi

tKaki gunung merapi. Tidak pernah terbayangkan tempat ini akan menjadi tempat praktekku yang pertama setelah lulus dari fakultas kedokteran sebuah universitas ternama di Jakarta. Tanpa kusangka, sebuah desa bernama Ringinanom dengan jumlah penduduk tidak lebih dari seratus orang itu mampu memikat hatiku saat pertama kali aku datang.
“Eh, pak dokter sudah datang. Monggo, mari silakan,” kata bu Lurah yang menyambutku di rumahnya. Jauhnya perjalanan yang harus kutempuh dan nyamannya udara desa yang bersih dari polusi membuatku tidak sabar untuk beristirahat.
“Silakan beristirahat dulu, pak dokter. Maaf, tempatnya ndak seperti rumah pak dokter di kota,” kata bu Lurah lagi. Aku tersenyum dan menggeleng. “Tidak apa-apa, Bu,” kataku sambil menenteng tasku. Setelah mengucapkan terimakasih, aku segera merebahkan tubuhku di sebuah kamar kecil di samping kamar pak Lurah. Mataku hampir saja terpejam saat sebuah ketukan halus terdengar di pintu.
“Ini kopi dan singkong rebus, pak dokter. Bisa untuk menghilangkan capek,” kata bu Lurah sambil membawakan nampan berwarna merah berisi segelas kopi dan sepiring singkong rebus yang masih mengepul. Aku memutuskan untuk makan bersama bu Lurah di ruang makan.
“Oh, jadi pak dokter ini anak tunggal to,” kata bu Lurah sambil mencocol singkong rebusnya dengan garam. Aku mengangguk. Tak lama kemudian terdengar suara langkah kaki dari luar. “Mboook. Ini sayur kangkungnya sudah dipetik,” kata seorang gadis yang langsung berdiri di samping bu Lurah. Dia tersenyum kikuk ke arahku setelah menyadari simboknya sedang bersama seseorang.
“Kenalkan, Nduk. Ini dokter Yongki. Dia akan bertugas disini selama beberapa bulan,” kata bu Lurah sambil memperkenalkanku pada puterinya. Aku langsung menjulurkan tanganku. “Yongki,” kataku singkat. Gadis itu tersenyum manis. “Mentari,” jawabnya.
Itulah yang membuatku terpikat untuk pertama kalinya.
+++
Keesokan paginya, Mentari mengajakku untuk berkeliling desa dengan menaiki sepeda. Aku harus memahami lingkungan desa ini karena sore nanti aku sudah mulai praktek. Dengan sabar Mentari menjelaskan desanya padaku. Dia hafal dengan semua warga yang hidup di desanya. Hm… puteri lurah yang baik, batinku.
Matahari mulai bersinar terik saat Mentari mengajakku ke kebun mentimun miliknya. Dia memetikkan sebuah timun berukuran besar dan memotongnya menjadi dua bagian. “Silakan dimakan,” katanya padaku yang sudah mulai mengibas-ngibaskan tangan karena kepanasan. Aku tersenyum dan mencari-cari air untuk mencuci mentimunku.
“Sini biar saya bersihkan,” kata Mentari sambil mengambil mentimun itu dari tanganku. Dia mengelap mentimunku dengan selendang yang ada di pinggangnya. “Nih,” katanya sambil menyerahkan mentimun itu. Aku menerimanya dengan kikuk.
“Tenang saja. Dokter ndak akan sakit perut gara-gara makan mentimun yang belum dicuci,” kata Mentari geli saat melihat keragu-raguanku. Aku segera menggigit mentimun itu. Dapat kurasakan kesegaran mengalir di kerongkonganku. Hm, lumayan, batinku sambil menggigit mentimun itu sekali lagi. Tiba-tiba Mentari tertawa. “Dokter ndak pernah makan timun sebelumnya ya?” tanyanya heran.
“Eh… em… Pernah kok,” kataku kikuk sambil menatap Mentari yang sedang tersenyum manis. Dia kembali tertawa. “Tapi belum pernah kan, makan timun di tengah sawah begini?” tanyanya lagi. Aku tersenyum malu dan menggeleng. Mentari kembali tertawa lepas.
Itulah yang membuatku terpikat untuk kedua kalinya.
+++
Sore harinya, Mentari mengantarku ke sebuah klinik yang akan menjadi tempatku praktek. Rupanya beberapa orang manula dan dua orang balita telah menunggu kedatanganku. Aku bergegas masuk ke ruang praktek sedangkan Mentari mendaftar pasien satu persatu.
“Bapak Slamet,” panggil Mentari. Seorang manula masuk. Aku segera menyilakannya duduk di kursi dan menanyakan keluhannya. Tak lama kemudian aku selesai memeriksa pasien pertamaku. Klinik kecil ini tidak memiliki ranjang periksa sehingga aku terpaksa memeriksa pasienku dengan posisi duduk. Klinik mulai ramai setelah seorang ibu bersama balita masuk ke ruang periksa. Balita berusia empat tahun itu menangis meraung-raung saat aku meminta ibunya menidurkannya di pangkuan. Untunglah Mentari datang dan membantuku menenangkan pasien kecil itu. Pasien ketigaku adalah seorang manula yang hanya mampu berbicara dalam bahasa Jawa. Aku yang tidak mengerti bahasa Jawa meminta bantuan Mentari untuk menerjemahkannya. Selanjutnya, beberapa orang manula dan balita selesai kuperiksa.
Sore berganti petang saat aku mengunci pintu klinik. Aku dan mentari berjalan beriringan menuju rumah. “Kamu capek ya, Mentari?” tanyaku saat melihat wajah kusut Mentari. Dia menggeleng. “Ndak apa-apa kok, Mas Yongki,” jawabnya sambil tersenyum. Aku yang memintanya untuk memanggilku “mas” setelah acara makan memakan timun tadi siang.
“Terimakasih ya, kamu sudah membantu saya di klinik sore ini,” kataku. Mentari tersenyum. “Itu tugas saya, Mas. Saya memang harus menemani mas Yongki selama bertugas disini,” kata Mentari. Jalan yang mulai gelap memaksaku lebih berhati-hati. Sesekali aku terperosok lubang di tengah jalan atau kakiku tertusuk duri-duri tanaman liar. Tanganku sibuk menggaruk-garuk leher dan telingaku yang menjadi sasaran empuk nyamuk malam itu. Tiba-tiba tangan Mentari meraih tanganku.
“Sini Mas, biar saya bantu,” katanya sambil menggandeng tanganku.
Itulah yang membuatku terpikat untuk ketiga kalinya.
+++
Keesokan harinya aku mulai praktek full time di klinik. Meskipun pasienku tidak terlalu banyak, namun aku sedikit kelelahan karena harus menjelaskan berbagai macam hal pada pasien yang tampaknya masih kurang mengerti dengan penyakit yang mereka derita.
“Pasien yang keenam belas, Mas. Sudah siap?” tanya Mentari sambil menatapku yang berkali-kali mendesah panjang. Aku hanya mengangguk. Tiba-tiba Mentari keluar dari ruangan dan berbicara sejenak dengan para pasien yang sedang antri. “Bapak-bapak dan ibu-ibu sekalian. Mohon maaf, praktek dokter akan dilanjutkan nanti pukul dua siang. Mohon maaf sekali. Terimakasih, Pak, Bu,” katanya dengan logat jawa yang khas. Mentari kembali ke ruang praktek dan duduk di depanku.
“Mas Yongki capek ya?” tanyanya. Aku menggeleng dan tersenyum. “Nggak capek, tapi lelah,” jawabku sambil menelungkupkan kepalaku di meja. Mentari berteriak, “Uuu.” Dan melempar tutup pulpen ke kepalaku. Aku tertawa geli.
“Iya, saya capek,” kataku sambil mengangkat kepalaku dari meja dan menatap wajah Mentari. Mentari melakukan hal yang sama. Dia menyandarkan kepalanya di meja. Kami saling berpandangan. Ah, Mentari… entah apa jadinya jika kau tidak membantuku disini, batinku. Tiba-tiba Mentari bangkit.
“Mas Yongki genit ah,” kata Mentari sambil menutup mukanya. Dahiku berkerut heran. “Jangan melihat saya seperti itu to Mas. Ndak ilok. Tidak baik,” katanya. Aku tersenyum geli dan mengangguk-angguk tanda setuju. Polos sekali kau, Mentari!
Keesokan paginya…
Tidak seperti biasanya, Mentari tidak membangunkanku pagi ini. Bu Lurah dan pak Lurah juga tidak ada di rumah. Tiba-tiba seorang pria mengetuk pintu dengan keras. Segera kubuka pintu dan kudapati Mentari sedang berada dalam gendongannya. Pak Lurah, bu Lurah, dan beberapa warga mengikuti di belakangnya.
“Mentari?!”
Aku berteriak kaget. Mentari membuka matanya sekilas dan menatapku. “Segera baringkan di kamar. Biar saya periksa,” kataku sedikit panik. Mentari telah berada di ranjang sekarang. Aku hendak memeriksanya denyut nadinya saat tiba-tiba tangan Mentari menyentuh tanganku.
“Saya ndak mau diperiksa, Mas,” kata Mentari lemah. Aku duduk di sebelahnya, meraba denyut nadinya, dan mencocokkannya dengan jam tangan yang kupakai. Normal kok, batinku sambil menggenggam tangan Mentari. “Ada apa, Mentari?” tanyaku sambil meraba dahinya. Panas!
“Saya ndak apa-apa, Mas. Beneran deh, suer,” katanya polos. Aku tersenyum geli dan meminta Mentari meletakkan termometer di ketiaknya. Suhu badan Mentari yang tinggi membuatnya tidak bisa membantuku di klinik.
Bertugas tanpa Mentari adalah hal paling repot yang harus kuhadapi saat ini. Ada dua puluh pasien yang harus kutangani dan tidak ada satupun dari mereka yang mau mengantre. Saat itulah tiba-tiba Mentari muncul. Dia langsung membantuku mengatur antrean pasien.
“Kamu sudah baikan?” tanyaku saat aku selesai memeriksa pasien terakhirku. Mentari mengangguk dan duduk di hadapanku. Tanganku terjulur meraba dahi Mentari. Hm, demamnya sudah turun, batinku.
“Terimakasih ya, Mas. Obatnya manjur. Mas Yongki pinter deh,” puji Mentari. Ada binar ketulusan di matanya saat itu. Aku tersenyum dan segera mengajaknya pulang.
Itulah yang membuatku terpikat untuk keempat kalinya.
+++
Suhu badan Mentari kembali naik saat kami sampai di rumah. Aku segera meminta Mentari untuk beristirahat. Malam harinya aku mengantarkan semangkuk bubur, segelas air, dan beberapa butir obat ke kamar Mentari.
“Loh… Mas Yongki ndak usah repot-repot,” kata Mentari sambil membukakan pintu untukku. Aku menggeleng dan meletakkan nampan yang kubawa di meja. “Saya suapin ya,” tawarku. Mentari tersenyum malu dan mengangguk. Saat itu entah mengapa aku ikut tersipu malu melihatnya.
“Besok kamu istirahat saja di rumah. Tidak usah ikut saya praktek,” kataku sambil menyuapkan bubur ke mulut Mentari. Mentari kontan menggeleng. “Kalau Mentari ndak bantuin Mas, nanti Mas repot,” katanya sambil memandangku penuh perhatian.
“I can handle it. Trust me,” kataku yakin. Mentari terdiam dan menatap kedua mataku. “Mas yakin?” tanyanya. Aku mengangguk dan memasukkan satu suapan ke mulut Mentari.
“Kita ukur suhu badan kamu ya,” kataku sambil menyerahkan termometer yang kukibas-kibaskan terlebih dahulu. Mentari menurut dan meletakkan termometer itu di ketiaknya. Aku mengamati Mentari sejenak. Tubuhnya lemas, suhu badannya tinggi, dan lidahnya sedikit kotor.
Jangan-jangan…
Malam semakin larut saat aku mendengar rintihan dari kamar Mentari. Pintuku diketuk seseorang. Pak Lurah.”Nak Yongki bisa bantu saya? Suhu badan Mentari tinggi sekali,” kata pak Lurah. Aku mengangguk dan menyambar stetoskopku yang ada di meja.
“Mentari,” panggilku sambil menggenggam tangannya. Mentari hanya merintih. Matanya terpejam. “Mas… Mentari ndak apa-apa kok,” jawabnya lirih. Aku mendesah dan memakai stetoskopku. Tidak kupedulikan penolakan-penolakan Mentari saat aku memeriksanya.
“Pak, apakah ada rumah sakit di sekitar sini?” tanyaku saat selesai memeriksa Mentari. Pak Lurah mengangguk. “Saya curiga Mentari terkena demam berdarah. Kita harus ke rumah sakit sekarang juga,” kataku. Pak Lurah dan bu Lurah mengangguk. Aku segera mengangkat tubuh Mentari ke mobilku.
Satu jam kemudian Mentari tengah ditangani di UGD. Benar dugaanku. Mentari terkena demam berdarah. Trombositnya hanya separuh dari jumlah normal. Pada saat itu juga timbullah rasa sayangku padanya. Rasa sayang yang belum pernah timbul sebelumnya. Rasa sayang sejati seorang pria kepada wanita yang dicintainya…
+++
Lagu Dear God milik Avenged mengalun dari ponselku. Aku yang masih terjaga malam itu segera mengangkat telepon yang masuk. “Dokter Yongki, ada pasien yang urgent melahirkan dan butuh operasi. Anda satu-satunya dokter bedah yang dapat kami hubungi,” kata seorang suster di seberang telepon.
Aku mengangguk. Kupandangi Mentari yang masih terlelap. “Terimakasih untuk kenangan-kenangan indah itu, Mentari,“ kataku sambil mengecup keningnya.
Pandanganku beralih ke seorang bayi laki-laki berusia enam bulan yang tertidur lelap di samping Mentari. Dia adalah Delvon Adirangga, buah cinta kami. Aku tersenyum dan membelai pipinya yang montok. Ayah dan bunda akan selalu menyayangimu, Nak.

Pengorbanan Terakhir

Bruuukkk…
Kraaakkk…
“Kakaaaaaak!!!”
Aku terbangun dari tidur malamku. Segera kuraba kening dan leherku. Keringatku mengucur deras, sederas ingatanku tentang kak Reza, kakakku. Sesaat aku terdiam, namun beberapa detik kemudian air mataku menetes.
“Kak Reza…”
Aku mengerang lirih. Entah mengapa hati ini rasanya sakit sekali setiap kali mengenang kejadian itu. Tuhan… mengapa kecelakaan itu harus terjadi. Kecelakaan yang membuatku harus berpisah dengan kak Reza. Kecelakaan yang membuatku kehilangan dia untuk selama-lamanya…

+++

Pagi ini aku bangun dengan semangat. Tidak seperti biasanya, aku menyentuh air dingin di bak mandi tanpa rasa enggan. Hari ini aku dan keluargaku akan berekreasi bersama ke Dieng, sebuah daerah yang terletak di Jawa Tengah yang terkenal sebagai penghasil keripik jamur kesukaanku. Meskipun membutuhkan waktu sekitar lima jam perjalanan, namun pemandangan yang tersaji di sepanjang perjalanan cukup menghilangkan rasa lelah. Begitu kata kak Reza.
“Dari mana aja sih? Kakak tunggu dari tadi,” kata kak Reza sambil meletakkan kedua tangannya di pinggang. Aku mendengus kecil, meletakkan tas yang kubawa, dan masuk kembali ke rumah. Terdengar suara tawa kak Reza.
“Hey hey hey… Gitu aja marah. Kakak bercanda tau,” kata kak Reza sambil memelukku dari belakang. Hal yang sering dia lakukan untuk membujukku saat aku merajuk. Aku menggeleng jengah dan berbalik.
“Nyebelin!” kataku singkat dan bersiap untuk berlari ke kamarku. Namun sebelum niatku terlaksana, kak Reza memegang tanganku dan menuntunku kembali ke mobil. “Jadi orang jangan cepat marah. Ntar cepat tua loh,” kata kak Reza. Aku terkikik geli.
“Mana papa dan mama, Kak?” tanyaku saat kami telah berada di mobil. Kak Reza menggedikkan bahunya dan menekan klakson mobil. Tak lama kemudian papa datang tergopoh-gopoh.
“Mendadak mama sakit perut. Perjalanannya kita tunda saja ya,” kata papa. Aku mendengus kesal dan cepat-cepat keluar dari mobil. Tidak kuhiraukan panggilan kak Reza yang mengikutiku dari belakang.
“Mit… Mita…” Kak Reza terus mengikutiku samai ke kamar. Kututup pintu kamarku dengan kasar dan membaringkan tubuhku di kasur. Moodku berubah 180 derajat pagi itu.
“Lagi ngapain Dek?” sapa kak Reza disusul dengan bunyi deritan pintu. Aku memalingkan wajahku dan mendengus sekali lagi. Kurasakan kak Reza duduk di tepi tempat tidurku dan tertawa kecil.
“Manja banget sih kamu,” kata kak Reza singkat, namun cukup membuatku tertarik untuk mencubitinya berkali-kali. Kak Reza tertawa, menjerit, kemudian tertawa lagi sambil berusaha menghalau tanganku.
“Mama udah baikan tuh. Kita berangkat sekarang,” kata kak Reza. Aku nyengir ke arah kak Reza dan menggamit tangannya. “Ayo kita berangkat!” kataku semangat. Kak Reza menyentil hidungku dan kami kembali ke mobil bersama-sama.
Sesampainya di halaman depan, mama menyambut kami. Wajah beliau pucat dan kedua tangannya terus saja memegangi perut. “Maaf, Sayang. Mama tidak bisa ikut hari ini,” kata mama. Aku kecewa berat. Hampir saja aku kembali ke kamarku seandainya kak Reza tidak menahanku.
“Biar mama istirahat saja dirumah. Lagipula kita masih bisa having fun kan, meskipun mama tidak ikut?” kata papa sambil mengelus punggungku. Aku menatap mama, meminta persetujuan.
“Papa benar. Biar mama istirahat saja dirumah,” kata mama. Demi melihat wajah mama yang tampak pucat, akhirnya aku mengangguk. Kak Reza melingkarkan tangannya di bahuku dan berkata, “Ayo kita berangkat!”
Aku tersenyum dan mencium kening mama, kemudian masuk mobil. Kak Rendra ganti mencium kening dan tangan mama dan berkata, “Reza pergi dulu Ma.”

+++

Sebuah truk berukuran besar berhenti di pinggir jalan. Sopir yang mengendarainya membuka pintu dengan kasar dan mengumpat-umpat pada dua teman seprofesinya. Dengan panik dia memeriksa bagian belakang mobil. Ada cairan berwarna hitam kental yang menetes dari sana. Oli.
“Menurut kau, berapa panjang tetesan oli ini sampai ke tempat kita berangkat tadi?” tanya si sopir dengan logat bicaranya yang khas. Seorang temannya meletakkan salah satu tangannya di dahi untuk mengurangi silaunya matahari dan menatap ke kejauhan.
“Menurut awak, perjalanan kita ini sudah lima ratus meter jauhnya. Jadi, mungkin saja oli ini sudah menetes sepanjang itu,” kata orang itu. Si sopir menepuk dahinya dan dengan geram dia membentak, “Bah! Lima ratus meter kau bilang? Alamak, ini berbahaya sekali. Cepat kau telepon polisi!”.

+++

“Masih jauh, Kak?” tanyaku bosan. Kak Reza dan papa yang duduk di depan tertawa geli. “Ini belum setengah perjalanan,” kata kak Reza. Aku mendesah panjang dan kembali menatap keluar.
“Kenapa? Kamu bosan ya?” tanya papa. Aku hanya mengangguk tanpa melepaskan pandanganku dari jendela. Sepertinya pemandangan diluar mulai indah, batinku sambil menurunkan kaca mobil. Kak Rendra ikut-ikutan. Dia mematikan AC dan membuka semua jendela mobil lebar-lebar. Angin sejuk mulai terasa.
“Coba kamu lihat ke sisi kanan jalan. Ada pemandangan bagus disana,” kata kak Reza. Aku menurut dan melemparkan pandanganku. Tepat di sisi kananku, berhektar-hektar sawah yang hijau terhampar dengan indahnya. Aku tersenyum lebar dan cepat-cepat melepas kaca mataku. Kata dokter, minus mataku bisa dikurangi dengan melihat pemandangan seperti ini.
“Bagus kan?” tanya kak Reza sambil tetap fokus mengemudi. Aku mengangguk dan mulai mengabadikannya lewat kamera ponsel.

+++

“Sudah kau telepon polisi hah?!” tanya si sopir truk dengan panik. Temannya mengangguk berkali-kali. “Polisi sedang menuju kemari,” jawabnya. Sopir itu kembali mengangguk dan mulai berjalan mondar-mandir, hal yang sering dilakukannya ketika sedang menghadapi masalah penting.
“Sekarang apa yang dapat kita lakukan? Bah! Kalau saja kau mengeceknya dengan benar, tentu saja tidak akan menetes sepanjang ini,” katanya. Si sopir terus menggerutu sampai beberapa polisi datang dari arah yang berlawanan.
“Selamat siang. Ada yang bisa…”
Polisi itu terdiam saat melihat tumpahan oli yang begitu banyak. Dengan sigap dia mengambil handie talkie dan menghubungi rekan-rekannya sedangkan sopir truk itu hanya dapat berkata, “Aku tak tahu apa yang akan terjadi. Ada jurang di sebelah kanan jalan. Jika ada kendaraan yang tergelincir, mau tak mau juranglah yang mereka hadapi.”

+++

Aku masih sibuk memandangi pemandangan di luar jendela. Bibirku berkali-kali bergumam kagum saat melihat hutan ataupun sawah yang sambung menyambung dengan teratur dan sangat indah. Udarapun mulai terasa lebih dingin, membuatku mengambil jaket kak Reza yang ada di sebelahku. Kak Reza hendak menutup jendelaku, namun kularang. Biarlah aku menghirup udara segar ini setelah dijejali oleh udara kota yang penuh polusi.
“Kak…”
Aku memanggil kak Reza dan memeluknya dari belakang. Kak Reza melepaskan salah satu tangannya dari kemudi dan mengelus kepalaku yang berada di pundak kirinya. “Makasih ya, Kak. Pemandangannya bagus banget,” kataku. Kak Reza mengangguk dan mencium pipiku. Iseng, kucubit pipinya keras-keras. Kak Reza mengaduh sedangkan aku dan papa tertawa geli.
Kuarahkan kembali pandanganku pada pemandangan di luar. Ttiba-tiba aku terpaku pada noda panjang berwarna hitam di jalan yang tengah dilewati oleh kami.
“Kak Reza, hati-hati. Ada oli di sebelah kanan jalan,” kataku. Kak Reza memelankan laju mobil dan memandang ke kanan jalan. Hasilnya nihil. Tidak ada oli di jalan barang setetespun.
“Mana olinya?” tanya papa yang juga ikut-ikutan memandang sisi kanan jalan. Telunjukku mengarah. “Itu Pa, yang di tengah jalan itu! Olinya banyak sekali Pa!” kataku panik. Kak Reza segera menghentikan mobil dan mengajakku turun.
“Mana olinya? Nggak ada kan?” kata kak Reza meyakinkan. Aku terdiam. Aneh… bukankah tadi ada banyak tetesan oli di jalan ini? Batinku bingung. Kak Reza memintaku kembali masuk mobil dan melanjutkan perjalanan.
Dan tetesan oli yang ada di jalan itu kembali muncul!

+++

“Lapor, Pak. Kami telah mencoba mengurangi tetesan oli itu, namun hasilnya nihil,” kata seorang anak buah Letnan Haryo, polisi yang menangani kasus ini. Polisi itu hanya menggeleng-gelengkan kepala dan mendesah panjang. Segera diinstruksikannya anak buahnya untuk menjalankan strategi kedua.
“Segera tutup semua jalan yang menuju kemari. Cari jalur alternatif! Lakukan pengamanan!” perintahnya. Semua anak buahnya mengangguk dan segera kembali ke lokasi. Sopir truk dengan panik mendekati polisi dan bertanya, “Bagaimana Pak polisi?”
“Tidak ada lagi yang dapat kita lakukan selain menutup akses melewati jalan ini,” kata Letnan Haryo. Sopir truk itu mengangguk dengan cemas seraya berdoa agar Tuhan tidak menyiapkan skenario lain. Agar Tuhan menyelamatkan semua atas kuasaNya.
Namun semua terlambat. Sebuah mobil APV silver berjalan tidak terkendali saat menuruni jalan yang curam…

+++

“Ada apa ini, Reza?!”
Papa yang panik berteriak keras, apalagi saat mobil menghantam sisi kiri jalan. Kak Reza menggeleng-gelengkan kepala dan berusaha menginjak rem. “Reza tidak tahu, Pa. Mobilnya tidak bisa dikendalikan!”
Aku yang juga berada di mobil APV silver itu hanya dapat menatap sisi kanan jalan dengan ngeri. Tetesan oli itu tampaknya semakin banyak saja. Aku memegang handle di pintu dengan erat.
“Reza! Ada oli di sebelah kanan jalan!”
Benar apa yang kulihat! Batinku. Oli! Itu oli yang tumpah! Aku tidak dapat berpikir lagi ketika mobil kembali menghantam sisi kiri jalan. Teriakan histeris keluar dari mulutku.
Tak lama kemudian sebuah tikungan tajam mulai tampak. Hanya ada sebuah pohon besar yang berdiri kokoh disana. Jantungku semakin berpacu kencang, sekencang mobil yang melaju tanpa sanggup ditahan. “Kak Reza… bagaimana ini?” tanyaku panik. Terdengar suara desahan kak Reza.
“Pohon itu akan menyelamatkan kalian,” kata kak Reza. Papa yang berpegangan kuat-kuat pada handle mobil langung menyahut, “Apa yang akan kamu lakukan?”
“Reza akan menghentikan laju mobil ini dengan menabrakkannya pada pohon itu. Dan kalian akan selamat,” kata kak Reza. Aku menggelengkan kepalaku keras-keras.
“Bukan kalian, tapi KITA!” kataku keras.
“Kakak akan berusaha menabrakkan mobil ini tepat di pintu kanan belakang. Tabrakannya akan cukup keras, tetapi pintu belakang tidak akan terbuka. Kamu akan selamat, Dek,” kata kak Reza.
“Tidak, Reza. Jangan tabrakkan mobil ini. Pasti ada jalan lain,” kata papa. Kak Reza menggeleng. “Sudah tidak mungkin lagi, Pa. Ini satu-satunya jalan,” katanya pesimis.
“Nggak, Kak!” sahutku. Mendadak suara kak Reza menjadi parau. “Lebih baik kakak yang berkorban untuk kalian,” katanya.
“Apa? Jadi Kakak…”
“Mita! Lebih baik mengorbankan satu nyawa daripada dua ataupun tiga!” sambar kak Reza. Suaranya makin bergetar saat mobil semakin mendekati tikungan tajam itu.
Dan kak Reza benar-benar melakukannya…

+++

“Yang sabar ya, Sayang.”
Mama mengelus punggungku sesaat setelah aku turun dari mobil, seakan berusaha untuk memberikanku kekuatan. Aku menatap nanar. Sebuah pemandangan yang sangat menyayat hati terhampar di depan mata. Bukan lagi pemandangan indah itu. Bukan lagi sawah atau hutan yang berjajar dengan manis. Tetapi sebuah makam. Makam yang tanahnya masih memerah basah. Makam yang baru berumur tiga hari, namun telah kukunjungi berkali-kali…

Reza Wisnu Wardhana
Lahir: 18 Februari 1988
Wafat: 30 September 2009

Makam kak Reza…
Masih hangat di benakku saat kak Reza membujukku yang sedang merajuk. Masih kuingat saat kak Reza mencium kening mama dan mengucapkan salam perpisahan. Masih jelas terasa pelukanku pada pundak kak Reza saat berada di mobil, dan pelukan itu menjadi yang terkahir untukku!
Aku tahu, aku tidak dapat menyalahkan takdir dan keputusan yang Tuhan tetapkan. Namun jika boleh meminta, Tuhan, izinkanlah kak Reza mendapat tempat yang layak disisimu. Biarkan dia beristirahat dengan tenang. Hapuslah semua dosanya, sebagai balasan dari pengorbanannya. Muliakanlah dia. Karena aku tahu, Tuhan, Engkaulah sang Maha Kuasa.

+++

Love all brothers in the world!
lihat cerpenku di cerpen.net

Sabtu, 24 Juli 2010

Briliana

Memiliki tiga orang kakak laki-laki memang tampak menyenangkan. Apalagi kalau dua diantara mereka kembar identik. Namun tidak untuk Brilianna, seorang siswi sekolah menengah atas di Yogyakarta. Ketiga kakaknya yang jenius, Leo, Rio, dan Yongki menuntutnya untuk menjadi jenius pula. Apalagi empat tahun yang lalu Si Kembar Leo dan Rio kompak masuk fakultas kedokteran universitas Gajah Mada Yogyakarta melalui jalur prestasi. Yongki juga berhasil mencetak prestasi yang membanggakan. Dia berkuliah di Fakultas Kedokteran Universitas Gajah Mada dan sempat dikirim untuk belajar di Yale University. Sekarang dia telah resmi menjadi dokter spesialis penyakit dalam.
Kedua orang tua Brilianna juga menuntutnya untuk mengikuti jejak sang kakak. Brilianna harus menjadi generasi penerus Leo, Rio, dan Yongki. Padahal, Lian-nama panggilan Brilianna-sama sekali tidak berminat masuk ke fakultas kedokteran, apalagi menjadi dokter. Dia ingin menjadi seorang sarjana ilmu komputer karena selama ini blognya dianggap lebih oleh para guru di sekolahnya, baik dari segi penampilan maupun kualitas isinya.
Karena keingintahuannya yang cukup besar akan dunia komputer, Lian mencoba mendekati Angga, kakak dari sahabatnya sendiri yang berkuliah di fakultas ilmu komputer. Usaha Lian membuahkan hasil. Angga mau mengajari Lian membuat sketsa dengan menggunakan beberapa program, kemudian Lian sendiri yang membuat webnya. Lama kelamaan Angga dan Lian menjadi akrab.
Beberapa waktu kemudian, seorang guru mata pelajaran memberikan sebuah tugas kepada Lian. Beliau mendaftarkan Lian menjadi salah satu peserta olimpiade kedokteran. Beliau juga telah mempersiapkan seorang alumni yang berkuliah di fakultas kedokteran untuk membimbing Lian. Pembinaan yang terus menerus untuk menghadapi olimpiade kedokteran membuat persiapan lomba desain yang akan diikuti oleh Gilang dan Lian menjadi sedikit terbengkalai. Akhirnya, Anggapun turun tangan.
Masalah mulai muncul ketika pada suatu hari Angga datang ke rumah Lian dan bertemu dengan Rio. Rio tidak suka sang adik dekat dengan Angga. Oleh karena itu, dengan dukungan penuh dari saudara kembarnya, Rio melarang Lian bertemu kembali dengan Angga. Protes Lian sama sekali tidak ditanggapi. Akhirnya Lian sempat mogok pembinaan olimpiade kedokteran selama beberapa minggu dan mendapat surat teguran langsung dari kepala sekolah!
Hasil ujian kenaikan kelas membuat papa dan mama Lian marah. Ada nilai enam yang bertengger manis pada pelajaran Biologi dan Matematika. Pelajaran yang menurut Leo dan Rio
adalah dasar dari pelajaran di fakultas kedokteran. Nilai itu juga yang membuat posisi Lian di kelas akselerasi terancam. Papa dan mama segera menjadualkan bimbingan les privat selama liburan kenaikan kelas dan Yongkilah yang diberi mandat untuk mencarikan guru privat untuk Lian. Keputusan mereka membuat Lian semakin tertekan. Dia lari dari rumah dan meninggalkan secarik kertas bertuliskan ”Don’t push me!” di meja belajarnya.
Lalu bagaimana nasib Lian selanjutnya? Akankah Lian tetap bertahan di kelas akselerasi? Bagaimana dengan keluarganya? Bagaimana hubungan Lian dan Angga selanjutnya? Berhasilkah Lian lepas dari bayang-bayang ketiga kakaknya?

Novel Barukuuuu

Najwa Alluna Novaschek (Luna), Kharinza Tirana Lockhart (Ririn), Aicylla Cybelrose (Ai), Kesya Marendradani (Kesya), Ardillia Vronzka (Dilla), dan Yvonne Pradiptia (Tia) adalah enam orang cewek yang bersekolah di salah satu sekolah internasional di Yogyakarta. Mereka bersahabat mulai dari awal masuk sekolah. Dengan latar belakang yang berbeda, Luna yang tomboy, Ririn yang feminin, Kesya dan Dilla yang baik hati, dan Tia yang perhatian segera menemukan kecocokan masing-masing. Selera yang sama (mulai dari makanan hingga cowok!) membuat mereka semakin tidak terpisahkan.
Semua bermula saat seorang cowok, Delvonando Wiratama Primahadiputra (Delvon), mulai hadir dalam kehidupan mereka dan menarik perhatian Luna dan Ririn. Perlahan-lahan geng itu mulai terpecah. Luna dibantu oleh Dilla dan Tia berusaha menarik perhatian Delvon, sedangkan Ai dan Kesya membantu Ririn untuk selalu dekat dengan Delvon.
Sebuah ujian datang menghampiri Luna saat Devon telah memilihnya. Ternyata Luna menderita penyakit yang tidak dapat disembuhkan! Hal itulah yang membuatnya mengambil keputusan untuk mundur dari persaingan itu. Dilla dan Tia yang membantunya kontan melawan, namun mereka tidak dapat berbuat apapun setelah Luna beralasan bahwa dia tidak mencintai Delvon lagi. Tia dan Dilla menganggap Luna telah mempermainkan mereka, begitu pula dengan Delvon. Perlahan-lahan mereka menjauhi Luna.
Ririn menganggap Luna telah kalah saat Delvon datang dan memintanya untuk menjadi pacarnya. Ririn langsung menyanggupinya. Hubungan antara Ririn, Kesya, Ai, Dilla, Luna, dan Tia semakin membaik, namun tidak dengan hubungan Luna dan Delvon. Suatu waktu Luna pingsan saat praktikum dan terpaksa dilarikan ke rumah sakit. Delvon yang masih menyayangi Luna selalu menemani Luna setiap saat sampai dia sembuh dan kembali bersekolah. Ririn yang mengetahui hal tersebut menganggap Luna telah menghianati dirinya. Ririn kembali menjauhi Luna.
Suatu hari Luna terpaksa dilarikan kembali ke rumah sakit. Delvon kembali berada di sisinya sampai pada suatu hari dia mengetahui bahwa penyakit Luna tidak dapat disembuhkan dan dapat merenggut nyawanya sewaktu-waktu. Delvon segera memberitahu Ririn, Dilla, Ai, Kesya, dan Tia. Namun usahanya sia-sia. Tidak satupun dari mereka mau menjenguk Luna yang kondisinya semakin melemah dari waktu ke waktu.
Lalu bagaimanakah kondisi Luna selanjutnya? Apakah teman-temannya mau memaafkannya? Mampukah dia bertahan?

Never Ending Love Story

Siapa sih, yang ingin menjadi anak dari keluarga broken home? Siapa sih, yang ingin hidup tanpa kasih sayang yang utuh dari kedua orang tua? Siapa sih, yang ingin dipandang perlu dikasihani hanya karena keluarga kita tidak utuh lagi? Kupikir tidak ada satupun yang menginginkannya, begitu pula denganku.
Papa dan mamaku bercerai setengah tahun yang lalu. Hak asuh anak jatuh pada papa. Aku dan kedua adikku tidak banyak protes saat beliau mengajak kami pindah ke rumah baru, meskipun kami juga harus mengurus kepindahan kami dari sekolah yang lama.
Tidak ada yang istimewa di sekolah baruku, kecuali seseorang yang membuat hatiku berbunga untuk pertama kalinya. Namanya Gilang. Usianya satu tahun lebih tua dariku. Saat ini dia sedang sibuk mempersiapkan ujian akhir sekolah yang kabarnya semakin sulit karena pemerintah kembali menaikkan standar kelulusan. Aku sering berpapasan dengannya saat kami berada di kantin. Dia selalu menyapaku lebih dulu.
Gilang bukanlah orang penting di sekolah. Dia bukan ketua OSIS yang setiap hari mengumpulkan anggotanya di ruang rapat. Dia bukan ketua teater atau klub seni di sekolahku. Dia juga tidak tergabung di klub olimpiade sains bergengsi di sekolahku. Dia hanyalah seorang kapten tim basket yang setiap hari selalu meluangkan waktu untuk berlatih di halaman belakang ditemani olehku.
Ah, menemaninya berlatih basket sudah membuatku senang. Aku juga penyuka basket. Mungkin karena itulah aku kami menemukan kecocokan dalam diri masing-masing. Gilang sudah pernah merasakan bertanding dengan pemain basket nasional saat mengikuti ajang basket yang diselenggarakan oleh salah satu produsen mie instan. Dia mengetahui banyak trik permainan. Itulah sebabnya mengapa klub basket sekolahku disegani oleh klub basket sekolah lain.
Gilang juga mahir berbahasa Inggris. Dia pernah mengikuti program pertukaran pelajar selama empat bulan ke Connecticut. Selama itulah ada seseorang yang hadir di hatiku. Namanya Angga. Dia adalah kakak Gilang. Kak Angga adalah seorang dokter yang pernah menangani cedera lututku saat aku bertanding basket. Hubungan kami semakin dekat saat aku ditugaskan untuk mengikuti olimpiade kedokteran yang diselenggarakan oleh salah satu perguruan tinggi bergengsi di kotaku, dan kak Angga menjadi pembimbingku.
Kami banyak meluangkan waktu bersama. Saat itu entah mengapa aku sedikit melupakan Gilang. Aku tidak begitu bersemangat saat dia meluangkan waktu untuk meneleponku. Aku juga tidak begitu tertarik saat dia mengajakku video chatting. Aku lebih bersemangat saat kak Angga mengajakku melihat rekaman video “Dr. Oz Show” yang dia dapatkan dari sebuah situs.
Siang itu, seperti biasa aku mengikuti bimbingan dengan kak Angga. Sebuah SMS yang masuk ke HP kak Angga membuatnya tersenyum senang. Hari ini Gilang pulang dari Connecticut. Itu artinya, besok pagi aku dan kak Angga akan menjemputnya di bandara. Ayayay… dua orang yang aku sukai akan bertemu besok.
Keesokan harinya kak Angga telah menjemputku di rumah. Toyota Fortunernya membunyikan klakson, membuatku cepat-cepat menuntaskan sarapan pagiku dan berlari menemuinya. Kami bergurau di sepanjang jalan menuju bandara. Di ruang tunggu, kak Angga mendahuluiku saat melihat Gilang sedang duduk dengan dua tumpuk koper di sampingnya. Riuh sejenak. Kak Angga dan Gilang saling berangkulan dan menemuiku yang berdiri tidak jauh dari mereka.
Gilang memelukku dengan erat saat aku tersenyum ke arahnya. Kak Angga membawa kami mengitari kota Yogyakarta dan berhenti sejenak di depan kampusnya saat dia melihat seseorang. Kak Angga mengenalkannya padaku. Namanya Lian. Dia adalah rekan seprofesi sekaligus teman istimewa kak Angga. Saat itu ada sesuatu yang kurasakan hilang dari tubuhku.
Kami melanjutkan perjalanan. Penghuni mobil bertambah satu, kak Lian. Dia duduk di samping Gilang dan mengobrol dengan riuh. Aku mengamati mereka satu-persatu. Kak Angga. Dia istimewa untukku, namun entah apakah aku pernah menjadi istimewa untuknya. Kak Lian. Istimewa untuk orang istimewaku. Gilang. Setidaknya aku pernah menjadi istimewa untuknya.
Kami berhenti di sebuah rumah di jalan Ganesha. Kak Angga, kak Lian, aku, dan Gilang masuk. Betapa terkejutnya saat aku melihat seorang wanita turun dari tangga menyambut kami. Mama!
“Ma, ini teman Gilang. Namanya Mita,” kata Gilang sambil merangkul mama. Hah? Mama? Gilang memanggil mama dengan sebutan “mama”? Aku menatap mama dengan pandangan tidak percaya.
“Kemarilah, Nak,” kata mama sambil memelukku. Air mataku menetes. Ternyata mama telah menikah lagi dengan seorang pengusaha dua bulan yang lalu. Pengusaha itu adalah ayah dari kak Angga dan Gilang. Itu berarti, mereka berdua adalah saudara tiriku.
Kurasakan kelegaan yang sangat saat aku memeluk kak Angga dan Gilang bergantian. Ternyata rasa cintaku selama ini tidak bertepuk sebelah tangan. Aku mampu mendapatkan cinta dari keduanya. Ya, cinta yang tulus dan abadi dari kedua orang kakak. Dan cerita cinta ini akan terus berlanjut…

Bagaimana kualitas cerpen yang baru saja anda baca?