Sabtu, 24 Juli 2010

New Year in Bali

Aku bukanlah orang kaya yang mampu menyewa cottage untuk menginap. Aku juga bukan orang yang suka menghabiskan waktuku untuk menunggu saat-saat matahari terbenam pada akhir tahun atau matahari terbit untuk pertama kalinya di pantai. Aku bukan orang yang suka menghabiskan waktuku dengan bermain ombak atau membuat istana pasir konyol seperti yang sering dilakukan oleh kakak-kakakku. Tapi sepertinya aku tidak mampu mengelak dari ritual ini karena semua yang kusebutkan tadi adalah rutinitas keluargaku di malam tahun baru.
Seperti sekarang. Tahun baru masih dua minggu lagi namun aku telah diserahi tugas untuk mencari lima tiket pesawat jurusan Yogya-Bali. Bukan tugas yang susah, karena aku mempunyai nomor telepon dari beberapa penyedia layanan tiket. Aku tinggal menghubunginya satu persatu. Tapi tampaknya aku kehilangan beberapa nomor setelah ponselku hilang beberapa hari yang lalu. Aku memutuskan untuk mendatangi agen-agen itu langsung. Aku mengambil kunci motor milik Ega, kakak pertamaku, tanpa sepengetahuannya. Biar saja. Habisnya, dia tidak pernah mengijinkanku menaiki Satria kesayangannya.
Tidak perlu waktu lama untuk sampai di agen tiket yang berjarak satu kilometer dari rumahku. Hawa sejuk langsung terasa saat aku masuk. Para pekerja tersenyum ramah padaku. Aku menarik sebuah kursi dan duduk menghadap meja.
“Selamat pagi, Mbak. Bisa saya bantu?” tanya si pelayan ramah. Aku tersenyum dan melirik plate name di dadanya. Lusi. “Saya mencari tiket tujuan Bali untuk lima orang. Tanggal tiga puluh satu,” jawabku. Lusi tampak mengetik sesuatu di keyboard. “Untuk tanggal tiga puluh satu sold out, Mbak,” katanya. Aku tercengang.
“Ganti maskapainya aja deh, Mbak. Siapa tau masih ada,” kataku memberikan option. Lusi mengangguk dan mencari lagi. “Sama Mbak. Sold out di data kami,” katanya. Aku menepuk dahiku. Segera kupacu motor Ega untuk berkeliling kembali ke beberapa agen tiket. Hasilnya? Nihil. Semua sold out. Aku duduk di sebuah tempat makan dengan sebuah orange juice di meja. Tanganku sibuk mengetik sms untuk papa dan Ega. Tiga puluh menit kemudian aku kembali meluncur menuju agen terakhir yang disarankan oleh papa. Seperti biasa, para pelayannya menyambutku dengan ramah.
“Ada yang bisa kami bantu, Mbak?” tanya seorang cowok yang melayaniku. Aku mengangguk. “Masih ada tiket untuk tanggal tiga puluh satu, Mas?” tanyaku.
“Tujuan Bali?” tanya si pelayan yang kuketahui dari plate namenya bernama Angga. Aku langsung mengangguk. “Bali memang tempat yang romantis untuk menghabiskan tahun bersama pasangan,” kata Angga. Aku tersenyum. Dasar sok tahu. Mungkin hanya kebetulan saja dia berhasil menebak pulau tujuanku.
“Masih ada tiket untuk lima orang, Mbak,” kata si pelayan. Aku tersenyum lebar. “Saya ambil semuanya,” kataku bersemangat. Angga tampak kaget. Mungkin dia berpikir aku hanya akan mengambil dua tiket, namun ternyata tidak.
“Saya pikir Mbak cuma ambil dua,” kata Angga. Aku sempurna tertawa. Benar apa yang kupikirkan. “Untuk siapa saja Mbak?” tanya Angga. Aku tersenyum. “Saya dan keluarga,” jawabku singkat. Angga tersenyum.
“Berarti, Mbak belum punya pasangan?” tanyanya. Aku tersenyum jengah. “Oh, maaf. Saya tidak bermaksud…”
“Nggak kenapa-napa kok, Mas. Lagipula saya memang belum punya pasangan,” jawabku sedikit malu. Angga tersenyum. Dia menyodorkan tangannya. “Nama saya Angga. Nama Mbak?” tanyanya. Aku tersenyum geli dan menyambut tangannya. “Ari,” jawabku singkat. Dia mengangguk-angguk.
“Saya cetak tiketnya dulu, Mbak. Silakan tanda tangan disini,” kata Angga sambil menyodorkan pulpen dan selembar kertas. Aku mengangguk. Tidak sampai lima menit, kelima tiket itu sudah berada di tanganku.
“Lain kali, kalau Mbak berencana pergi ke Bali, datang saja ke agen kami,” kata Angga. Aku mengangguk dan memberikan sejumlah uang pada Angga. “Makasih Mas,” kataku sambil menjabat tangan Angga. Tiba-tiba kurasakan ada secuil kertas yang sengaja Angga berikan padaku.
“Terimakasih juga, Mbak. Selamat liburan!” kata Angga sambil tersenyum manis. Aku cepat-cepat membuka kertas yang kugenggam setelah sampai di pintu keluar. Tertera beberapa nomor di kertas itu. Nomor ponsel Angga. Aku kontan tertawa dan mengalihkan pandanganku pada Angga yang masih melayani pelanggannya. Angga menoleh padaku dan tersenyum.
Dua minggu kemudian, aku dan keluarga bersiap menuju bandara. Aku ditugasi untuk check in bersama dengan Alan, kakak keduaku. Seperti biasa, kami berebut tempat duduk. Aku tidak ingin duduk di samping Ega atau Alan karena pasti aku akan habis dikerjai mereka. Satu jam kemudian kami telah duduk di pesawat. Jarak tempat duduk kami tidak begitu jauh. Papa dan mama duduk di barisan kanan. Ega dan Alan duduk di barisan kiri sedangkan aku duduk di barisan kanan berjarak beberapa kursi dari papa dan mama. Aku mulai menyalakan iPodku.
“Maaf, Mbak. Bisa geser sedikit?” tanya seseorang yang sebelumnya telah mencolek bahuku. Aku menoleh dan terkejut saat mendapati Angga telah berdiri di belakangku. “Angga!” sapaku kaget. Entah mengapa pada saat itu aku merasa senang sekali. Aku langsung menggeser tempat dudukku.
“Nggak disangka ya, kita bisa satu tempat duduk begini,” kataku senang. Angga tersenyum dan mengangguk. “Iya. Kebetulan aku membeli tiket sama sepertimu. Hehehe.” Angga tertawa. Aku tersenyum. Beberapa lama kemudian pesawat mulai mengudara.
“Kamu sering naik pesawat?” tanya Angga. Aku mengangguk. “Kami selalu merayakan tahun baru di Bali,” jawabku. Angga menggaruk kepalanya. “Wow,” serunya tertahan. Aku tertawa. “Sebenarnya aku merasa bosan. Tapi aku tidak boleh absen sekalipun,” kataku. Mulut Angga membulat kembali.
“Sebenarnya profesimu apa?” tanyaku pada Angga. Angga tersenyum. “Seperti yang kamu lihat saat kamu memesan tiket kemarin,” jawab Angga. Aku mengangguk-angguk. “Kamu kuliah?” tanya Angga. “Teknik Geologi semester tiga,” jawabku. Angga tersenyum.
“Wah, ternyata kamu talented juga. Cerdas,” kata Angga memujiku. Diam-diam aku merasa bangga. “Setiap orang juga bisa cerdas asalkan mau bersungguh-sungguh,” jawabku. Angga tersenyum lagi.
“Bertambah satu kekagumanku padamu. Kamu dewasa,” kata Angga. Kali ini aku tersipu malu. Entah mengapa aku merasa nyaman berada di dekat Angga. Obrolan kami berlangsung seru sehingga tanpa sadar pesawat kami telah mendarat di Bandara Ngurah Rai, Bali. Aku dan Angga berpisah saat kami mengambil koper masing-masing. Aku melanjutkan perjalanan menuju hotel tempatku dan keluargaku menginap.
Sore harinya, aku, Ega, dan Alan pergi ke kafe di dekat pantai Kute untuk reservasi tempat. Kami ingin menikmati pesta kembang api tepat pukul 00.00 malam nanti. Ega dan Alan menghubungi petugas reservasi. Namun sayang, semua tempat telah penuh. Aku, Ega, dan Alan hendak mencari tempat lain saat seseorang meneriakkan namaku.
“Ari!”
Aku menoleh. “Hey. Angga. Kebetulan sekali,” kataku menyambutnya. Angga berlari mendekatiku. Aku mengenalkannya pada Ega dan Alan. “Aku baru saja memesan tempat di kafe ini. Kalian boleh menggunakannya jika kalian mau,” kata Angga. Mata Ega dan Alan langsung berbinar-binar. Kepala mereka mengangguk-angguk. “Tapi… kuharap nanti malam Ari mau meluangkan waktu untukku,” lanjutnya. Tanpa persetujuanku, Alan dan Ega langsung menyanggupi. Aku mencium bau persekongkolan mereka dari lirikan mata masing-masing. Angga mengedipkan sebelah matanya padaku.
“Kamu mau kan?” tanya Angga padaku. Demi melihat Alan dan Ega yang memasang wajah memohon, aku menyanggupinya. Angga tersenyum senang. “Oke. Aku sudah memesan sebuah tempat di tepi pantai. Kita akan menghabiskan waktu disana,” kata Angga. Lagi-lagi aku mengangguk. Ega dan Alan tidak membolehkanku ikut saat mereka akan kembali ke hotel. Jadilah aku dan Angga duduk di kafe berdua sampai keluargaku datang.
“Kamu harus mencoba steak spesial dari kafe ini,” kata Angga saat pelayan datang. Aku mengangguk. Tidak masalah. Aku juga penggemar berat steak. Nama steak yang dipesan oleh Angga kali ini sedikit berbeda, membuatku menaikkan kedua alisku. “Eternal Love Steak.” Steak macam apa itu? Batinku heran.
“Steak ini melambangkan cinta sejati. Siapa saja yang memakannya bersama dengan pasangan, cinta mereka akan abadi,” kata Angga. Aku kontan tertawa. Lagi-lagi sifat Angga yang sok tahu muncul. “Tau dari mana kamu?” tanyaku sambil menyeruput orange juice yang lebih dulu terhidang.
“Aku sempat bertanya pada pelayan disini. Ini steak yang khusus kupesan untumu,” kata Angga lagi. Aku tersenyum geli. Angga memasang tampang protes. “Dari tadi kamu tidak berhenti tertawa atau tersenyum mengejekku,” kata Angga. Tak lama kemudian pesanan kami datang. Sungguh diluar dugaan saat piring berisi steak itu berada di hadapanku. Eh? Bentuknya hati dengan sayur-sayuran yang ditata sesuai dengan warnanya membentuk hati yang lebih besar lagi.
“Cinta itu bisa menumbuhkan berbagai macam perasaan,” kata Angga saat aku mulai terkagum-kagum dengan steak yang baru pertama kali kuihat. Aku langsung mengangkat kepalaku. “Kita bisa merasa senang, sedih, terlindungi, dan dimiliki sekaligus. Cinta bisa mengubah warna hidup kita, seperti sayuran yang ditata di piring steak ini. Cinta membuat hidup kita lebih berwarna,” kata Angga. Aku mengangguk-angguk. “Ayo, dicoba steaknya,” kata Angga. Aku menurut.
“Kamu sering juga ke Bali, Ngga?” tanyaku sambil memasukkan sepotong kecil steak ke dalam mulutku. Angga menggeleng. “Nggak sesering kamu,” jawabnya. Aku langsung memukul tangannya pelan. “Jangan meledekku seperti itu. Ini ritual keluarga yang harus kuikuti,” sambarku. Angga tertawa.
“Mungkin mereka ingin kamu mendapat jodoh disini,” kata Angga. Aku menggeleng. “Mungkin juga tidak, karena aku selalu menghabiskan malam tahun baru bersama keluargaku saja,” jawabku. Angga tersenyum.
“Malam ini kamu akan menghabiskan malam tahun baru denganku,” kata Angga. Aku mengangguk-angguk. Tidak masalah selama keluargaku bisa merayakan malam tahun baru seperti tahun-tahun sebelumnya. Lagipula siapa yang bisa menolak untuk menghabiskan malam bersama cowok ganteng bernama Angga di kafe seromantis ini?
“Ri, apa benar, kamu belum punya pendamping… Mmm… Maksudku…”
“Pacar?” sambarku dengan cepat. Angga mengangguk sambil menatapku yang tidak berhenti mengunyah steak. “Aku memang belum punya pacar,” jawabku jujur. Angga tampak senang sekali. “Kalau begitu… apakah resolusimu di tahun 2010 adalah memiliki pacar?” tanyanya lagi. Aku hampir saja tersedak mendengar pertanyaan konyol itu.
“Mungkin,” jawabku sambil tersenyum geli. Angga tersenyum lebar. Tak lama kemudian kami telah menghabiskan makanan masing-masing. Angga mengajakku duduk di tepi pantai.
“Kamu suka pantai?” tanya Angga saat aku duduk disampingnya. Aku mengangguk sambil memegangi rambutku yang mulai berlarian ditiup angin. Angga tersenyum dan mengambil sapu tangan di saku celananya. “Pakai ini. Mungkin bisa membantu menahan rambutmu,” kata Angga. Aku tersenyum dan mengambil sapu tangan itu kemudian mengikat rambutku. Angga menggelengkan kepala. “Bukan begitu maksudku,” katanya sambil melepas ikatan di rambutku. Dia melipat saputangannya menjadi segitiga dan memakaikannya di kepalaku sebagai bandana. “Kamu terlihat lebih cantik dengan rambut tergerai,” katanya. Tanpa sadar pipiku memerah. Angga selalu berhasil membuatku tersipu malu.
“Kamu suka musik?” tanya Angga lagi. Aku mengangguk. Tiba-tiba Angga menghilang dan kembali dengan sebuah gitar di tangan. “Aku akan menyanyikan lagu untukmu,” katanya sambil duduk di hadapanku dan memainkan gitarnya. Angga mulai menyanyi sedangkan aku tersenyum geli. Angga langsung berhenti memainkan gitarnya. “Tuh kan,” katanya sambil memasang tampang cemberut. Aku tertawa sedangkan Angga mulai mengambil suara lagi.
“I’m never gonna say goodbye… coz I never wanna see you cry… I swore to you my love would remain… And I swear it all over again and I… I’m never gonna treat you bad… Coz I… never wanna see you sad… I swore to share your joy and your pain… And I’d swear it all over again… More I know of you… is the more I know I love you… And the more that I’m sure I want you forever and ever more…”
Aku memandang Angga yang sedang memainkan gitar. Tiba-tiba dia berhenti dan menatapku. “But until that day… you… know you are… the queen of my heart,” kata Angga. Tiba-tiba dia meraih tanganku dan menggenggamnya dengan erat.
“Would you be mine?” tanyanya. Aku tercengang dan tanpa sadar aku mengangguk. Angga tersenyum senang dan memelukku dengan erat. Dia menatap mataku lekat-lekat dan tersenyum jahil. “Aku yang mengatur semuanya. Itu sebabnya tiba-tiba kamu bertemu denganku di pesawat dan semua tempat di kafe sengaja kupesan semua agar aku bisa berdua denganmu malam ini,” kata Angga. Senyum jahil tetap terpampang di bibirnya. Mulutku kontan menganga. Angga menggenggam tanganku dan meletakkannya di dadanya.
“Aku juga bukan seorang pelayan yang bekerja di agen tiket,” kata Angga sambil melirikku. Aku balas meliriknya. Kami tertawa bersamaan. “Aku sudah menduganya sejak awal, karena tampaknya kau mengetahui banyak tentang Bali, especially pantai Kute,” jawabku. Angga mengangguk-angguk.
“Bulan depan aku akan kembali ke Australia untuk melanjutkan studiku disana,” kata Angga. Aku tetap diam. “Tenang saja, setelah studiku selesai, kamu tidak perlu datang ke dokter untuk general check up,” kata Angga. Mulutku lagi-lagi menganga. Jadi Angga adalah seorang mahasiswa kedokteran yang berkuliah di Australia! Angga terkekeh melihat reaksiku yang terheran-heran.
Aku tersenyum dan menatapnya. Wajah Angga semakin mendekat. Aku memejamkan mataku, menunggu bibirnya menyentuh bibirku. Tepat pada saat itu, bermacam-macam kembang api diletuskan. Langit menjadi semarak seketika. Angga memelukku dari belakang sedangkan aku berteriak-teriak seru saat melihat kembang api meledak di atas kepalaku. Ah, kembang api tahun ini memang lebih indah dari tahun-tahun sebelumnya…

Malaikat Bersayap Satu

Semua bermula saat aku bertemu dengannya di kebun binatang beberapa tahun yang lalu. Pertemuan yang sangat tidak terduga dan sama sekali tidak romantis namun menjadi titik balikku dalam urusan cinta. Aku sedang berjalan-jalan di kebun binatang dengan para sahabatku dan tiba-tiba ada seorang cowok berpenampilan rapi mendekatiku.
“Hai, aku Randy,“ kata cowok itu sambil mengulurkan tangannya. Aku tersenyum kikuk dan menyambut tangannya. “Lian.”
“Kami adalah mahasiswa fakultas kedokteran hewan yang sedang mengadakan penelitian,” kata kak Randy. Aku dan kedua temanku hanya mengangguk-angguk. Benar kan, tidak romantis? Tidak seperti Dina yang bertemu dengan pangerannya saat dia sedang tampil di sebuah kafe paling romantis di kota ini. Atau Niske yang ditembak di tengah seratus lilin berbentuk hati yang menyala. Pertemuan itu berlangsung singkat namun entah mengapa aku mulai merasakan ada sesuatu yang lain.

+++

Aku tersenyum saat menerima sebuah SMS dari seseorang. SMS pertama dari kak Randy setelah kami bertemu siang tadi. Aku senang sekali saat mengetahui kak Randy sendiri yang meminta nomor HPku, bukan teman-temanku yang memberitahukannya.
Malam ini aku tidak bisa tidur. Entah mengapa perasaanku berbunga-bunga dan jantungku berdebar tidak keruan. Bayangan kak Randy tidak dapat kuhilangkan dari otakku. Kalau saja otakku adalah perangkat komputer, aku sudah meng-klik tombol kanan mouse dan merefreshnya. Kalau perlu mendelete beberapa file yang mengganggu.
Aku berbaring di tempat tidur dan meraih bantal gulingku. Berkali-kali mengubah posisi tidak membuatku mengantuk, tetapi mataku semakin terbuka lebar. Aku merutuk dalam hati. Mengapa seorang Randy dapat membuatku insomnia begini? Batinku heran. Aku bangkit dan duduk di tepi tempat tidur. Dengan sekali tekan aku kembali menghidupkan lampu kamarku.
Jujur, aku belum pernah merasakan jatuh cinta bahkan pacaran meskipun usiaku telah menginjak 18 tahun. Misiku yang kuat untuk menyelesaikan pendidikan dan membuat kedua orang tuaku bangga adalah pondasiku dalam menghadapi virus yang bernama cinta. Flashback dua bulan yang lalu, ada seorang cowok yang menyukaiku, namun dia memutuskan untuk mundur karena aku lebih memilih les bahasa Inggris daripada makan es krim di restoran mewah.
Sebenarnya aku nggak jelek-jelek amat. Tubuhku tergolong mungil dengan pipi yang sedikit tembem namun berlesung ketika aku tersenyum. Kata teman-teman senyumku manis. Aku juga anak yang mudah bergaul dengan siapa saja. Aku tidak gendut, apalagi obesitas. Banyak cowok yang sebenarnya naksir padaku. Itu yang ku ketahui dari kedua sahabatku, Niske dan Dina.
Tanpa kusadari bibirku melengkungkan senyum. Benar juga apa kata Niske dan Dina. Saat istirahat sekolah, banyak cowok yang datang ke kelasku sekedar untuk mengobrol dan menarik perhatianku. Sebenarnya mereka hanya buang-buang waktu saja. Aku tidak pernah tertarik untuk berpacaran sebelum masa sekolahku usai. Kugali lagi memoriku saat kedua sahabatku menasehati, “Umur 18 tahun adalah saat yang tepat untuk memiliki pacar.”
Aku tertawa geli. Pacar bisa dicari, tetapi kebanggaan orang tua sangat sulit didapatkan. Lagipula aku telah berjanji kepada almarhum bundaku untuk selalu menjadi kebanggaan orang tua.
Aku berbaring kembali. Bunda… seandainya kau masih ada disini, batinku sambil mendesah. Kau bisa membantuku mengatasi masalah ini. Bunda! Anakmu ini jatuh cinta!

+++

Hari ini adalah hari yang indah untukku karena sebuah tim dari universitas akan datang dan membantu kami melakukan penelitian. Pembina tim ekstrakurikuler karya ilmiah remaja kami yang mengusulkan agar pihak sekolah mendatangkan pembimbing yang sesuai dengan cakupan penelitian kami. Dan yang paling menyenangkan adalah saat aku mengetahui bahwa kak Randy yang mengetuai tim tersebut.
Semua anak bertepuk riuh termasuk aku dan kedua sahabatku saat pembina ekstrakurikuler kami menyambut tim yang baru saja datang. Namun, tidak ada satupun yang berkomentar saat Kak Randy membuka acara dengan memperkenalkan diri. “Saya Randy Pranata Setiawan. Salam kenal.”
Pandanganku terpaku pada sosok yang tengah berdiri di depan ruangan. Tubuhnya tegap, sikapnya sopan dan tampak ramah kepada semua orang. Gaya bicaranya mampu membuat semua anak memperhatikannya. Wajahnya bersih dan sangat manis jika tersenyum. Dia seperti malaikat bersayap. Saat itu aku mati-matian berharap belum ada orang yang menjadi sayap keduanya.
Aku langsung menggeleng-gelengkan kepalaku dan mendesah, namun beberapa saat kemudian wajahku berubah menjadi ekspresi wajah meratap. Perasaanku menjadi begitu gembira. Tampaknya otakku mulai terserang virus cinta.
Bunda… kenapa cowok itu ganteng sekali?

+++

Malam harinya…
“Silakan masuk, Kak,” kataku sopan. Kak Randy tersenyum dan mengangguk. Malam ini kak Randy datang ke rumahku setelah sore tadi dia menelepon untuk meminta ijinku. Aku menyambutnya kikuk, menyilakan kak Randy duduk kemudian berlari ke belakang untuk membuat minuman. Aku serasa ingin meledak saat itu.
Aku senyum-senyum sendiri saat membuat minuman. Bunda, cowok itu datang, batinku. Ditemani oleh pembantuku, Mbok Kar, aku kembali ke ruang tamu dengan membawa segelas minuman dan beberapa potong kue brownies.
“Well, aku datang karena tertarik dengan proposal penelitian yang tadi kau presentasikan di forum. Aku ingin mengajukan proposal penelitianmu ke dekan fakultas untuk disertakan dalam lomba penelitian tingkat nasional bidang IPA kategori umum. Kuharap… kalau proposalnya disetujui… kau mau bergabung dengan kami,” kata kak Randy dengan senyum mengembang. Aku meleleh. Dadaku berdetak kencang. Bunda… lihatlah, betapa indah malaikat yang satu ini. Tanpa pikir panjang aku langsung mengangguk. Kak Randy mengucapkan terimakasih, menjabat tanganku, kemudian berkata, “Aku sangat berharap kau bisa menjadi anggota tim.”
Aku tersenyum lebar dan melambaikan tangan saat mobil kak Randy mulai berjalan. Di tanganku terdapat sebatang cokelat pemberiannya. Hey, dari mana dia tahu kalau aku menyukai cokelat? Aku meletakkan cokelat itu di meja belajarku dan kucari tanggal kadaluwarsanya. 30 Januari 2012. Ha! Berarti aku dapat menyimpan cokelat ini sampai tiga tahun kedepan.
Konyol! Seperti inikah rasanya jatuh cinta? Perasaanku selalu berbunga-bunga dan semuanya tampak indah. Beberapa minggu kemudian kak Randy memberitahuku bahwa proposalku telah diterima dan dalam beberapa hari kedepan dana penelitian dapat dicairkan.
Itu artinya aku semakin dekat dengan kak Randy.

+++

Laboratorium FKH UGM, empat bulan sebelum lomba…
“Percobaan kita mendekati hipotesa. Ini perkembangan yang baik,” kata kak Dhimas, rekan satu timku. Aku mendengarkan penjelasannya sambil bermain dengan anak ayam broiler yang digunakan untuk percobaan.
“Kak Randy kemana, Kak?” tanyaku saat kak Dhimas sedang memeriksa ayam-ayam yang lain. Dhimas tersenyum. “Randy sedang menjemput Annisa,” jawabnya.
“Yah, maklumlah. Annisa baru pulang dari Bandung,” sahut kak Lia yang juga rekan satu timku. Firasatku tidak enak. Annisa? Bandung? Apa hubungannya dengan kak Randy?
“Mereka pasti sedang melepas rindu. Memang pasangan itu sudah dua bulan tidak bertemu,” sahut rekan satu timku yang lain.
Melepas rindu? Pasangan? Mendadak aku merasa ada sesuatu yang hilang dari dalam diriku. Jadi malaikat itu telah memiliki pendamping?

+++

Laboratorium FKH UGM, dua bulan sebelum lomba…
Aku sedang mengamati ayam-ayam percobaan yang bobotnya meningkat dratis. Aku menggendong ayam itu satu persatu dan memindahkan ke sebuah wadah yang nantinya akan digunakan untuk menimbang. Kak Randy tersenyum dan merangkul pundakku. “Percobaan kita berhasil,” katanya. Aku langsung terdiam.
“Kenapa diam saja? Biasanya kau tidak pernah bisa diam,” tanya kak Randy. Aku menggeleng dan meninggalkannya. Mataku memanas. Kak Randy telah mengecewakanku dan sekarang dia pura-pura peduli padaku! Apakah setiap orang pernah merasakan patah hati dan putus asa karena cinta? Jika benar, maafkan aku Bunda. Aku telah menjadi salah satu dari mereka.

+++

Lab FKH UGM, dua minggu sebelum lomba…
Kak Dhimas menggandeng tanganku dan mengajakku duduk. Aku menurut. Dia memberiku segelas orange juice. “Presentasimu bagus,” kata kak Dimas singkat. Aku hanya tersenyum. Tiba-tiba aku merasakan tepukan di pundak kananku. Kak Randy.
“Wajahmu pucat. Jangan sampai sakit, ya,” kata Kak Randy. Aku mengangguk kecil. Tiba-tiba kak Dhimas bangkit. “Kita mulai lagi latihan presentasinya,” katanya dengan suara lantang. Kak Randy mendesah panjang dan kembali ke lab.
“Aku tidak suka kau dekat dengan Randy.”
“Loh, bukannya dia juga anggota tim?”
“Ya.”
“Mengapa kau melarang…”
“Karena aku menyukaimu!”

+++

8 Agustus 2009, detik-detik perlombaan…
“Yang terhormat, bapak ibu dewan juri dan para hadirin. Saya akan mempresentasikan hasil penelitian dari Avogadro Team tentang Pemanfaatan Air Perasan Tomat sebagai Feed Additive pada Ayam Broiler. ”
Semua mata menatapku sedangkan aku sibuk menenangkan diriku sendiri. Aku berpresentasi dengan lancar. Paling tidak aku dapat menjawab semua pertanyaan yang diajukan oleh juri. Butuh waktu tiga puluh menit untuk menyelesaikan presentasiku dan berdebat dengan para penanya dan mematahkan argument-argumen mereka.
Semua anggota tim langsung mengerubungiku saat aku turun panggung. Saat itu, tangan kak Randy terulur ingin menjabat tanganku, namun terhalang oleh tubuh kak Dhimas yang telah lebih dulu merangkulku.
“Kita makan siang dulu, yuk,” ajak kak Dhimas. Aku mengangguk. Sekilas kulihat kak Randy, dia sedang mengepalkan tangannya. Saat itu aku masih berharap kak Randy akan mengejarku. Namun hatiku kembali sakit untuk yang kedua kalinya saat mengetahui dia ternyata hanya berani memandangku.
Saat kami kembali, ternyata dewan juri telah bersiap-siap untuk mengumumkan pemenangnya. Aku sama sekali tidak berharap menjadi juara, apalagi juara pertama. Namun tidak dengan anggota tim lainnya. Mereka tampak gelisah saat tim juri jeda sejenak untuk membacakan pemenang pertama.
“Juara pertama adalah… Avogadro Team dengan penelitian yang berjudul Pemanfaatan Air Perasan Tomat sebagai Feed Additive pada Ayam Broiler!”
Kak Dhimas langsung memelukku dengan erat sedangkan kak Randy menjabat tanganku. Aku sendiri melompat-lompat kegirangan dan menerima jabatan tangan dari anggota tim lainnya. Dengan penuh percaya diri aku melangkah menuju podium dan menerima ucapan dari dewan juri dan tim penilai.
Bunda! Aku menang! Dengan begini, sudahkah kau merasa bangga padaku?

+++

“Hey!”
Lamunanku buyar saat seseorang menepuk pundakku. Aku tersenyum. Seorang cowok yang sekarang telah resmi menjadi dokter hewan itu berdiri di hadapanku. Kak Randy. “Melamun?” tanyanya. Aku menggeleng.
“Jangan bohong,” sahutnya. Aku tertawa dan menarik tangannya agar duduk di sebelahku. “Memoriku kembali lagi,” jawabku.
“Tentang malaikat itu?” tanya kak Randy. Aku mengangguk dan tersenyum. “Aku ingin sekali menuliskannya agar semua orang tahu, bahwa kita harus selalu berjuang untuk mendapatkan malaikat yang kita inginkan,” jawabku.
“Kau tidak berubah. Masih ambisius sepeti dulu.”
Aku tertawa mendengar perkataannya. “Ambisius? Bukankah saat perlombaan aku sama sekali tidak menginginkan kemenangan?” tanyaku. Giliran dia tertawa. Aku memandangnya. Wajahnya bersih, tampan, manis, dan sangat mencuri perhatian. Dagunya berjenggot tipis, dewasa, berwibawa, dan mampu membuatku jatuh cinta. Ah… malaikatku…



Untuk malaikat pertamaku

Swim

“Arrrgh! Nyebelin!”
Angel membuka pintu kamarnya dan langsung terjun bebas di kasur empuknya. Hari ini Angel pergi ke kolam renang umum untuk berlatih bersama anggota klubnya. Pak Herman, pelatihnya, sedang cuti untuk sementara waktu. Angel dan teman-temannya berlatih dengan klub lain untuk sementara. Dia terheran-heran saat melihat pelatih klub itu. Namanya Arya. Usianya baru dua puluh lima tahun, namun prestasinya sudah melebihi perenang senior. Tubuhnya atletis. Wajahnya mampu memikat semua cewek yang berlatih renang pada hari itu. Namun siapa sangka kalau Arya ternyata kejam banget? Belum apa-apa, Angel dan teman-temannya harus berenang dari ujung kolam ke ujung lainnya selama lima belas menit. Siapa yang paling sedikit mengumpulkan poin harus pindah ke kolam anak-anak untuk selanjutnya dilatih oleh asisten Arya, Ale, yang sama kejamnya. Angel yang baru dua minggu bergabung di klub renang harus merasakan kekejaman Ale karena dia hanya berhasil mengumpulkan empat poin, tertinggal dari teman-temannya yang mengumpulkan tujuh poin.
“Sial!” gerutu Angel sambil memperagakan gaya bebas di kasurnya. Wajahnya manyun. Angel menelungkupkan wajahnya di bantal dan berteriak sekencang-kencangnya sampai Brian, kakaknya, masuk dan duduk di samping tempat tidurnya.
“Kenapa lagi lo?” tanya Brian sambil tersenyum geli saat melihat wajah sang adik yang memerah. Angel mendengus. “Pelatih renang gue reseh banget,” jawabnya sambil duduk di samping sang kakak dengan rambut awut-awutan. Brian tetap tersenyum geli. “Gue harus berenang dari ujung ke ujung selama lima belas menit. Gue cuma dapet empat poin. Gila aja dia! Kolam olympic segede gambreng begitu! Lagian gue kan baru masuk klub dua minggu yang lalu!” teriak Angel gusar.
“Lo kan udah tau konsekuensi masuk klub renang,” kata Brian mulai membujuk sang adik. Angel tetap menekuk mukanya. “Pokoknya gue sebel sama si Arya itu!” kata Angel. Brian menggeleng-geleng.
“Kak, lo mau kan, ngelatih gue?” tanya Angel tiba-tiba sambil menatap sang kakak.
“Ngelatih apaan?” tanya Brian.
“Renang.”
“Kapan?”
“Sekarang lah. Lo cepetan siap-siap sana, gue tunggu,” kata Angel. Brian tampak kaget namun segera kembali ke kamarnya. Dulu, dia adalah mantan perenang yang telah memenangi banyak perlombaan di tingkat nasional. Beberapa lama kemudian, Brian dan Angel meluncur ke sebuah pusat olah raga di kota.
“Lo siap?” tanya Brian saat Angel berdiri di sampingnya. Angel mengangguk dan segera berdiri di salah satu track. Brian mulai menyiapkan stop watch di tangannya. “Three two one, yap!” kata Brian memberi aba-aba. Angel melompat dari balok di tepi kolam dan mulai berenang dengan gaya bebas. Brian berjalan di samping kolam dan memberikan instruksi-instruksi pada sang adik. Diam-diam ada sepasang mata yang mengawasi mereka.
“Kaki rapat!” kata Brian saat sang adik berenang gaya dada atau katak. Angel tampak tidak peduli sehingga Brian terpaksa berteriak-teriak. Pemilik sepasang mata itu mengulas senyum. Angel dan Brian telah sampai di ujung kolam. Brian hendak memberikan instruksi lagi namun batal karena Angel telah berhenti dan tampak kelelahan.
“Heh! Ayo berenang lagi!” kata Brian sambil berkacak pinggang. Angel melepas kacamata renangnya. “Capek tau! Lo tau kan kolam ini ukurannya berapa?” bentak Angel. Brian menggeleng-geleng. “Nggak usah berlagak kayak si Arya deh!” kata Angel sambil menolak dinding kolam dan berenang kembali. Kali ini gaya kupu-kupu. Sepasang mata itu tampak menyipit. Dia heran mengapa namanya disebut-sebut.
Dua jam kemudian, Angel dan Brian duduk di tepi kolam. Brian telah berkostum renang kali ini. “Lo liatin gue berenang sekarang,” kata Brian sambil mengambil kaca mata renang di kepala Angel. Angel mengangguk-angguk. Brian berdiri di track, melompat sekuat-kuatnya, dan berenang dengan gaya bebas. Angel berjalan cepat di tepi kolam dan mengamati teknik renang sang kakak
“Kakinya Kak! Rapetin!” kata Angel saat Brian berenang dengan gaya dada. Brian hampir saja bernafas di air saat mendengar teriakan sang adik. Bah! Teknik berenang Angel nol besar jika dibandingkan dengan Brian tapi sudah sok-sok memberikan instruksi. Angel ngakak. Brian telah mencapai ujung kolam dan mulai berenang dengan gaya kupu-kupu. Angel masih setia mengikuti. Dari jauh Arya tersenyum. Itu gaya kupu-kupu terbaik yang pernah menjatuhkan gue dulu, batinnya.
Brian masih belum berhenti berenang saat Angel duduk di tepi kolam karena kelelahan. Brian tidak peduli dan menuntaskan renangnya tujuh kali lagi. Angel tersenyum geli. Teknik renang kakak emang keren, batinnya.
“Heh! Bukannya gue suruh ngeliatin teknik renang gue tadi?” bentak Brian saat melihat Angel duduk sambil menyibak-nyibak air dengan kakinya. Angel ngakak. “Capek Kak,” jawabnya. Brian mendengus. Angel tertawa dan akhirnya mereka balapan renang. Brian dan Angel berdiri di track masing-masing dan saling memberikan aba-aba. Brian membiarkan Angel melaju lebih dulu.
“Lo jangan ngeremehin Angel, Yan,” kata seseorang saat Brian masih berdiri di track. Brian menoleh dan mendapati Arya berdiri di belakangnya. Dia tampak kaget namun sedetik kemudian dia segera memeluk Arya. Mereka tertawa bersama. “Adek lo udah jauh tuh. Ntar lo kalah lagi,” kata Arya sambil meninju lengan Brian. Brian mengangguk dan segera menyusul Angel.
+++
Brian berubah menjadi kejam setelah bertemu dengan Arya. Dia turun tangan untuk melatih sang adik. Teknik mengajarnya tidak jauh berbeda dengan Arya. Kejam dan mengenal hukuman. Kali ini hukumannya adalah Angel akan dimasukkan ke klub renang Arya jika tidak sanggup mengumpulkan sepuluh poin. Mau tidak mau Angel berusaha keras saat latihan bersama Brian satu minggu kemudian.
“Heh, tangan lo kurang kuat!” bentak Brian saat Angel gelagapan mengambil nafas. Angel kelelahan dan berhenti di tengah jalan. Brian berkacak pinggang. “Kenapa berhenti, heh?” kata Brian sambil berkacak pinggang.
“Capek Kak,” jawab Angel sambil mengatur nafasnya. Brian tidak mengenal toleransi. Dia menyuruh Angel berenang kembali. Angel menurut. Brian hendak ke toilet saat insiden itu terjadi…
Angel melesat dengan gaya bebas saat seseorang berdiri di tepi kolam dan melompat. Tanpa disadarinya, Angel tengah melintas saat itu. Tubuh Angel yang mungil tertimpa tubuh cowok berbobot tujuh puluh dua kilogram! Angel kontan panik saat tubuhnya tertimpa sesuatu. Dia mencoba naik ke permukaan namun gagal karena tubuhnya terdorong ke bawah dengan kuat. Nafas Angel telah habis. Dia mati-matian menahan nafasnya, namun gagal. Berliter-liter air masuk ke kerongkongannya. Angel tidak memiliki tenaga untuk kembali ke permukaan air. Angel pingsan dan pada saat itulah seseorang mendekatinya dan mengangkat tubuhnya.
“Angel? Bangun Angel.”
Angel mendengar seseorang memanggil-manggil namanya. Matanya terbuka. Dia terbatuk-batuk. Banyak orang yang mengelilinginya. Angel menatap wajah sang penolong yang lama-kelaman mulai jelas. Arya!
“Arya,” kata Angel pelan. Dia melihat Brian menyibakkan kerumunan orang itu dan segera melarikannya ke rumah sakit. Angel baru sadar keesokan harinya. Dia mendapati Brian berdiri di samping tempat tidurnya dengan memakai seragam putih berlengan pendek. Brian masih co-ass. Kelak dia akan memakai seragam putih dengan lengan panjang setelah dilantik menjadi dokter.
“Kakak,” kata Angel pelan. Dia memegangi kepalanya yang serasa berputar. Brian mengangguk dan mengelus kepala Angel. “Jangan banyak gerak dulu ya. Lo harus banyak istirahat,” kata Brian. Angel terdiam, mengalihkan pandangannya, dan tersentak saat melihat Arya juga berada di sisi tempat tidurnya. Arya tersenyum lebar. “Angel,” panggilnya. Angel tersenyum.
“Lo masih inget gue kan?” tanya Arya. Angel tertawa geli dan mengangguk. “Ya masih lah. Lo pelatih renang gue yang paling kejam,” jawab Angel. Arya tertawa, begitu juga dengan Brian. “Itu karena gue tau lo adik Brian,” jawabnya. Angel ganti menatap kakaknya dengan pandangan tidak mengerti.
“Sebenernya… Arya dulu saingan berat gue waktu pelatihan olimpiade,” kata Brian sambil melempar pandangan ke arah Arya. Arya mengangguk. “Gue nggak pernah bisa ngalahin gaya bebas dia,” lanjut Brian.
“Tapi gaya kupu-kupu lo yang dahsyat itu bikin gue terlempar dari klub waktu seleksi,” lanjut Arya. Brian dan Arya tersenyum, begitu juga dengan Angel. Oke, lain kali Angel akan menantang mereka balapan dengan gaya dada atau gaya punggung.
Beberapa hari kemudian Angel diijinkan pulang oleh dokter. Genap satu minggu setelahnya dia telah menginjak lantai klub renang barunya. Klub renang Arya. Arya sama sekali tidak berubah. Masih kejam dan suka menghukum seperti dulu. Namun kali ini Angel tidak pernah kena hukuman karena selalu berhasil mengumpulkan poin terbanyak.
Arya mengajaknya makan malam bersama setelah sesi latihan sore itu. Mereka menuju ke restoran favorit Arya dan bertemu dengan Brian disana. Suasana seru langsung tercipta. Brian dan Arya saling melontarkan ejekan untuk Angel sedangkan Angel membalas mereka dengan cubitan. Mereka baru berhenti saat pesanan datang. Arya memesan sepiring steak dan orange juice, Brian memesan semangkuk salad dengan jus alpukat cokelat, sedangkan Angel memesan nasi goreng mie kesukaannya dan segelas jus strawberry.
“Lo udah punya pacar?” tanya Arya saat mereka sedang melahap makanan masing-masing. Angel menoleh dan langsung menggeleng. “Gue belum pernah pacaran. Dapet ultimatum dari kakak tuh,” jawab Angel tenang. Arya tertawa geli. “Kalo gitu gue first kiss lo dong,” kata Arya. Mata Angel melotot memandang Arya.
“Iya. Gue kan sempat ngasih bantuan nafas buatan waktu lo tenggelam dulu,” sahut Arya tanpa beban. Tiba-tiba selera makan Angel menguap entah kemana.









Untuk teman-temanku:
Marilah kita mulai merajut mimpi

Bagaimana kualitas cerpen yang baru saja anda baca?